K.P. SHK

PASAH KAMANTHUHU, TEMPAT KERAMAT SANG PELINDUNG DESA

Keyakinan masyarakat Suku Dayak Ngaju khususnya yang beragama Hindu Kaharingan terhadap tempat atau benda keramat masih dipertahankan hingga saat ini. Hal tersebut menghasilkan kearifan lokal dan menjadi tradisi yang telah turun temurun dari nenek moyang mereka. Tempat atau benda keramat juga dipercayai oleh masyarakat sebagai simbol penghormatan masyarakat kepada leluhur yang sudah menjaga desa. Terdapat suatu tempat sebagai simbol pelindung desa yang disebut Pasah Kamanthuhu oleh masyarakat suku Dayak Ngaju.

Pasah Kamanthuhu atau yang umum dikenal dengan nama keramat batu (pasah patahu) merupakan sebuah tempat keramat yang di dalamnya terdapat beberapa batu yang sering digunakan oleh warga desa untuk ritual khusus. Bagi masyarakat Suku Dayak Ngaju yang ada di Desa Gohong, Mantaren I, Buntoi, dan Kalawa, sebutan lain dari Pasah Kamanthuhu yaitu Pasah Panganthuhu, Rumah Panganthuhu, atau Patahu.

Ibu Emi (48 tahun) sedang menjelaskan cerita tentang Pasah Kamanthuhu (Doc. KPSHK/Febrina, Agustus 2022)

Ibu Emi (48 tahun) selaku perwakilan BPD Mantaren I menjelaskan bahwa Pasah Kamanthuhu seringkali dikunjungi baik oleh masyarakat desa maupun luar desa karena mereka percaya bahwa tempat ini bisa mengabulkan niat atau keinginan. Misalnya, apabila ada masyarakat yang sedang sakit, yang memiliki hajatan, atau yang akan bepergian, maka mereka akan meminta perlindungan serta meminta dilancarkan segala urusanya. Sesajen yang biasa diserahkan untuk Pasah Kamanthuhu yang ada di Desa Mantaren I adalah bendera, fanta merah, ayam jago hitam, kue cucur merah dan putih, telur ayam kampung, beras ketan merah, serta ketupat jagal dan sinta. Ada juga ritual khusus tertentu yang biasanya diadakan per tahun.

Ibu Sayang (49 tahun) sebagai salah satu masyarakat Desa Gohong juga mengungkapkan bahwa selain batu yang dipercayai memiliki kekuatan sebagai simbol penjaga desa, di dalam Pasah Kamanthuhu juga terdapat sekitar 7 makhluk tak kasat mata yang diyakini oleh masyarakat sebagai penjaga Desa Gohong. Makhluk tersebut dulunya merupakan keturunan nenek moyang asli desa ini. Para makhluk ini senantiasa membantu masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah yang ada di desa. Cara memanggil makhluk yang diyakini sebagai penjaga desa tersebut yaitu mendatangi di Pasah Kamanthuhu dengan niat menyampaikan doa atau hajat serta menyediakan sesajen berupa air fanta merah, air daun sirih yang sudah dikapuri, dan air tape ketan yang nantinya disimpan di sekitar Pasah Kamanthuhu. Meskipun tak kasat mata, namun masyarakat merasakan keberadaan makhluk dari Pasah Kamanthuhu yang sedang menjaga desa, salah satunya dengan dikabulkannya keinginan masyarakat yang datang ke Pasah Kamantuhu.

Pasah Kamanthuhu di Desa Gohong (Doc. KPSHK/Febrina, Agustus 2022)

Penempatan Pasah Kamanthuhu yang berlokasi di ujung desa maupun di tengah-tengah pemukiman menyesuaikan fungsi dari Pasah Kamanthuhu itu sendiri sebagai penjaga atau pelindung desa. Berdasarkan penelitian Sunarningsih di desa-desa Kahayan Hilir pada tahun 2015, lokasi dan bentuk dari Pasah Kamanthuhu yang ada di Desa Gohong yaitu berada di wilayah yang tidak jauh dari tepi Sungai Kahayan dengan bentuk rumah panggung kecil yang dibalut kain kuning yang didalamnya terdapat batu berwarna hitam abu-abu dengan bentuk bulat alami dan satu buah meriam atau logam yang sebagian ujungnya sudah hilang. Terdapat 3 Pasah Kamanthuhu yang berada di Desa Mantaren I yang berbeda lokasi, satu pasah berada di pekarangan penduduk dengan bentuk rumah panggung kecil yang lengkap dengan sesajen dan tidak terdapat batu di dalam dan kolongnya, sedangkan dua pasah lainnya terletak di tepi Sungai Kahayan dengan bentuk rumah punggung kecil yang di dalamnya terdapat beberapa batu berwarna hitam abu-abu bentukan alam dilengkapi sesajen juga.

Isi Sesajen Pasah Kamanthuhu di Desa Mantaren I (Doc. KPSHK/Febrina, Agustus 2022)

Tidak hanya masyarakat Desa Gohong maupun Mentaren I, bagi masyarakat luar yang mempunyai keinginan dan ingin berdoa di Pasah Kamanthuhu pun dipersilakan untuk datang dan menyampaikan keinginannya tersebut dengan membawa sesajen sesuai ketentuan Pasah Kamanthuhu dari masing-masing desa dan harus didampingi oleh masyarakat setempat. Menurut Ibu Emi juga jika berdoa harus mempercayai keberadaan makhluk penjaga desa yang ada di Pasah Kamantuhu, apabila setengah hati atau ragu-ragu percaya akan hal itu maka doa atau hajat tidak akan terkabul. Ketika berdoa juga harus mengutarakan janji (apapun itu) jika harapannya terkabul. Apabila harapan atau hajatnya terkabul maka harus kembali ke Pasah Kamanthuhu untuk mewujudkan janji yang telah diucapkan. Biasanya melaksanakan ritual membayar hajat yang dilakukan oleh orang tersebut dan ditemani oleh pemuka adat atau balian dengan menancapkan bendera kuning dan membawa botol merah (Fanta) atau memberikan sesajen berupa ayam kampung, dan air tuak.

Pasah Kamanthuhu di Desa Buntoi (Doc. KPSHK/Febrina, September 2022)

Masyarakat juga seringkali membantu mengantar orang luar yang sengaja datang untuk menyembuhkan penyakit, diantaranya penyakit gula, juga rambut rontok ke Pasah Kamanthuhu. Minyak yang dibawa oleh orang tersebut, dioleskan oleh masyarakat ke tubuh orang tersebut. Selain itu, untuk rambut rontok, masyarakat membantu menyangrai kacang kedelai yang nantinya digunakan sebagai obat.

 

 

#KPSHK-Hum/Al/Feb/As

Leave a Reply

Lihat post lainnya