K.P. SHK

Mitigasi El Nino: Menerapkan Pola Green Lifestyle

El Niño adalah fenomena cuaca yang mengubah cuaca global dan berdampak besar pada iklim di banyak negara, termasuk Indonesia. Fenomena ini terjadi karena suhu permukaan air di Samudra Pasifik Tengah dan Timur menjadi lebih hangat dari biasanya.[1]

Dalam kurang lebih seratus tahun terakhir, rata-rata di permukaan bumi telah meningkat 0,74 ± 0,18°C. Di Indonesia, menurut Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), suhu rata-rata udara di permukaan tanah mengalami peningkatan sebesar 0,5°C. Jika dibandingkan dengan periode tahun 1961 hingga 1990, rata-rata suhu di Indonesia diproyeksikan meningkat 0,8 hingga 1,0°C antara tahun 2020 hingga 2050.[2]

Menurut model yang dibuat oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah panel antarpemerintah yang dibentuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, suhu permukaan global akan meningkat antara 1,1 dan 6,4 derajat selama abad ke-20.

Menurut Dra. Prasinta Dewi, M.A.P., Deputi Bidang Pencegahan BNPB, BNPB telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi El Niño Tahun 2023. Beberapa tindakan dan strategi dilaksanakan dalam kerja sama dengan pemerintah daerah dan lintas kementerian/lembaga. Di antara langkah-langkah tersebut adalah pelaksanaan apel kesiapsiagaan dan kunjungan daerah, penyediaan logistik dan perlengkapan pemadaman darat, teknologi modifikasi cuaca, penyediaan prasarana operasi darat seperti helikopter patroli dan water bombing, dan penggabungan aplikasi pemantauan Karhutla.

“BNPB memberikan imbauan kepada daerah-daerah yang biasanya mengalami kekeringan untuk memastikan ketersediaan air. Ini adalah langkah penting untuk memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap sumber air yang cukup saat memasuki musim kemarau”, ujar Prasinta pada kegiatan Focus Group Discussion Antisipasi Menghadapi Musim Kemarau dan Bencana Kekeringan Tahun 2023 di Ruang Serba Guna, Gedung Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat, Senin (7/8).[3]

Ketika El Niño terjadi, penting untuk memantau dan memantau cuaca dan iklim untuk memberikan peringatan dini tentang kemungkinan musim kemarau yang lama. Jika tidak ada tindakan pencegahan, konsekuensi musim kemarau yang panjang, seperti kebakaran hutan dan lahan, menjadi ancaman yang nyata.

Menurut pakar lingkungan Universitas Airlangga (Unair) Wahid Dianbudiyanto, mengatakan, masyarakat dapat mulai hidup dengan menerapkan pola green lifestyle. Salah satunya dengan aktivitas menanam pohon. Menurutnya, meski menanam pohon merupakan aksi adaptasi, hal itu juga bisa disebut sebagai upaya mitigasi karena pohon dapat menyerap karbon dioksida, sehingga mampu mengurangi dampak pemanasan global. “Pohon juga dapat menjaga sumber air tetap hidup, hal ini dapat digunakan sebagai upaya mitigasi saat terjadinya kemarau panjang,” ujarnya.[4]

Tindakan kecil menerapkan pola green life style dapat memiliki efek positif jika dilakukan secara kolektif.

  1. Kurangi penggunaan kendaraan bermotor. Jika memungkinkan, gunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki.
  2. Hindari penggunaan alat elektronik yang tidak perlu. Matikan semua peralatan elektronik ketika tidak digunakan dan gunakan lampu hemat energi atau LED.
  3. Mengurangi penggunaan plastik. Hindari plastik sekali pakai, gunakan tas belanja kain, dan bawa botol minum sendiri.
  4. Mengurangi pemborosan makanan dengan membeli makanan hanya sesuai kebutuhan dan menghindari membuang makanan yang masih bisa dimakan.
  5. Dukung energi terbarukan. Jika memungkinkan, pilih untuk menggunakan energi terbarukan seperti angin atau matahari.
  6. Tanamlah tumbuhan di pekarangan atau dalam pot.
  7. Jangan lupa untuk menjadi lebih peka terhadap lingkungan dengan menanam dan merawat tanaman, setidaknya dimulai dari halaman belakang rumah.
  8. Gunakan sunscreen atau sunblock dengan SPF minimal 35 untuk melindungi kulit dari sinar matahari ultraviolet. Ini terutama berlaku untuk orang yang sering berada di luar ruangan. Sebisa mungkin, hindari terlalu dekat dengan sinar matahari, terutama pada siang hari.

Dalam menyikapi perubahan iklim, untuk upaya mitigasi atau pencegahan, KPSHK juga telah melakukan aksi penanganan Karhutla yang terjadi di empat desa dampingan (Gohong, Mantaren I, Buntoi, dan Kalawa). Selain itu, KPSHK juga telah membuat perencanaan penanaman di area hutan pada program Pengelolaan Terpadu Ekosistem Hutan Gambut di Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Perlu upaya bersama, untuk melindungi lingkungan dan masyarakat dari dampak yang lebih buruk. Saatnya bertindak, beradaptasi, dan menjaga keberlanjutan untuk masa depan yang lebih baik dengan menerapkan pola green life style.


[1] https://umsu.ac.id/berita/apa-itu-el-nino-dampak-dan-cara-mengantisipasinya/

[2] https://www.bappenas.go.id/index.php/berita/

[3] https://bnpb.go.id/berita/hadapi-el-nino-2023-bnpb-siapkan-langkah-pencegahan-karhutla-dan-kekeringan

[4] https://tekno.republika.co.id/berita/ru4fi7478/menghadapi-panas-ekstrem-dan-el-nino-apa-yang-harus-dilakukan

Penulis: Alma

Editor: Yudha

Leave a Reply

Lihat post lainnya