K.P. SHK

Menguak Kemeriahan Perlombaan Hari Kemerdekaan Indonesia

Salah satu tujuan dari perlombaan yang diadakan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) adalah untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air di antara masyarakat. Orang-orang dapat merayakan kemerdekaan dengan berpartisipasi dalam perlombaan ini.

Beberapa perlombaan yang sering diadakan selama perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan adalah:

1. Lomba Panjat Pinang. Panjat pinang adalah perlombaan yang dilakukan dengan memanjat pohon pinang yang sudah dikuliti dan diberi cairan pelican, seperti oli dan tanah liat untuk memperebutkan barang-barang yang digantungkan di atasnya. Sejak 1930-an panjat pinang sudah dilakukan. Pada zaman itu panjat pinang dikenal dengan nama de klimmast, yang artinya memanjat tiang. Tidak bisa dipungkiri bahwa perlombaan yang satu ini menjadi hal yang dinanti oleh masyarakat pada Hari Kemerdekaan Indonesia. Panjat pinang merupakan perlombaan saling menopang dan bekerja sama dengan menyingkirkan ego antarpemuda demi meraih hadiah.

2. Lomba Balap Karung. Peserta masuk ke dalam karung yang diikat di pinggang mereka dan kemudian berlari mengikuti rute balap. Ini adalah perlombaan yang menyenangkan, menguji kekuatan fisik dan keseimbangan. Selain itu, makna yang terkandung dalam permainan balap karung adalah pentingnya kerja keras, kerja sama, dan sportivitas. Nilai kerja keras tecermin dari semangat para pemain untuk sampai di garis finish secepat mungkin.

3. Lomba Makan Kerupuk. Peserta berusaha tidak menggunakan tangan untuk makan kerupuk yang diikat pada tali. Perlombaan ini sangat sederhana. Bisa diikuti oleh semua orang dari segala umur atau jenis kelamin. Kerupuk identik sebagai makanan rakyat kecil di masa perang agar dapat bertahan hidup. Namun, pada tahun 1950-an, makan kerupuk dijadikan ajang perlombaan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.

4. Lomba Tarik Tambang Tim. Setiap tim berlomba untuk menarik tali lawan mereka. Tim yang dapat menarik lawan mereka ke area mereka adalah pemenangnya. Tarik tambang yang bermakna sikap gotong royong yang menjadi budaya nusantara sejak zaman dahulu.

5. Lomba Gigit Koin. Sesuai dengan namanya, dalam permainan ini para pesertanya diharuskan untuk mengambil koin-koin yang ditancapkan pada buah semangka, pepaya, atau jeruk bali dengan cara menggigitnya. Agar lebih mempersulit, panitia biasanya melumasi seluruh permukaan buah dengan jeli, jelaga, atau bahkan oli pelumas kendaraan bermotor. Nilai yang terkandung dalam permainan gigit koin ini adalah kerja keras dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain untuk dapat menggigit koin sebanyaknya agar menjadi pemenang. Nilai sportivitas ini tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat permainan berlangsung, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.

6. Estafet Tepung. Sistem pertandingan dalam lomba ini adalah mengumpulkan tepung sebanyak banyaknya dalam waktu yang sudah ditentukan. Setiap peserta selama mengoper tepung ke belakang tidak boleh menoleh dan harus melewati di atas kepala. Apabila menoleh atau tidak melewati di atas kepala akan didiskualifikasi. Terdapat 1 (satu) orang wasit yang bertugas langsung memimpin, mengawasi jalannya perlombaan, dan memperhitungkan perolehan tepung masing-masing Tim. Pemenang adalah yang paling banyak timbangan hasil tepungnya yang dilakukan secara estafet. Pengestafetan tepung menggambarkan pendelegasian kepada seluruh tim yang terlibat, bagaimana tugas tersebut dapat terselesaikan tepat waktu dan tepat sasaran.

Perlombaan yang diuraikan di atas hanya beberapa saja karena masih banyak perlombaan lainnya yang menarik dan seru dalam merayakan HUT RI. Namun, ada satu perlombaan yang menjadi ciri khas pada Desa Gohong (Desa Program KPSHK), yaitu Lomba Mambesei.  

Lomba Mambesei merupakan olahraga khas Suku Dayak yang bernama “Besei Kambe” atau Lomba Mambesei yang disebut Dayung Sampan. Lomba ini biasanya diselenggarakan ketika HUT RI atau hari-hari besar di Kalimantan Tengah. Ajang adu kecepatan sampan tradisional ini biasanya digelar masyarakat pinggiran sungai. Desa Gohong biasanya melaksanakan di Sungai Kahayan Hilir. Lomba ini tidak memandang jenis kelamin, tetapi harus diikuti oleh usia dewasa.

Mulai dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kota, hingga tingkat nasional, kompetisi ini dapat diadakan di berbagai tingkatan. Tujuannya adalah untuk mengingat dan merayakan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia serta menumbuhkan rasa persatuan dan cinta tanah air di antara penduduknya.

Penulis: Alma

Editor: Yudha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat post lainnya