K.P. SHK

Lawang Sakepeng: Atraksi Silat dari Suku Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah

Suku Dayak Ngaju tinggal di provinsi Kalimantan Tengah, dan salah satu atraksi silat mereka adalah Lawang Sakepeng. “Lawang” menunjukkan pintu atau gapura, dan “sakepeng” menunjukkan satu keping. Untuk menyambut tamu dan acara perkawinan, lawang sakepeng sering diperagakan. Lawang sakepeng biasanya terbuat dari kayu dan tingginya 2,3 meter dengan lebar kurang lebih 1,5 meter. Bagian atasnya dihiasi dengan tanaman rambat dan burung enggang, dan sisi sampingnya dihiasi dengan telawang (perisai suku Dayak).

Kebanyakan atraksi Lawang Sakepeng didasarkan pada pencak silat. Hal ini dikatakan dipengaruhi oleh budaya asing yang dibawa oleh para pedagang ke Kalimantan. Bela diri dataran Cina dan silat Sumatera dan Jawa adalah contoh dari pengaruh gerakan tersebut.

Dalam atraksi Lawang sakepeng, orang biasanya mengenakan pakaian adat Dayak Ngaju, yang terdiri dari rompi kulit kayu yang disebut sangkarut. Cawatnya terbuat dari kain nyamu berbentuk persegi panjang yang disebut ewah, yang menutupi bagian depannya. Saat ini, rompi dibuat dari kain berwarna coklat muda yang mirip dengan warna kayu yang sebenarnya. Untuk bagian kepala, lelaki menggunakan ikat kepala (salutup hatue) dan perempuan menggunakan salutup bawi. Beberapa bagian tubuh menggunakan giwang (suwang), kalung, gelang, dan tatoo. Aksesori biasanya terbuat dari biji-bijian, kulit kerang, gigi, dan taring binatang yang dirangkai menjadi kalung, dan giwang terbuat dari kayu keras. Corak biasanya dihiasi dengan pohon, daun, akar, pohon, harimau, dan warna hitam dan putih dari tanah putih, kunyit, dan buah rotan. (sumber: https://aturanpermainan.blogspot.com/2021/11/daftar-permainan-tradisional-provinsi-kalteng.html#5.-Lawang-Sakepeng)

Aturan Permainan

Aturan permainan

  • Diiringi oleh alat musik pengiring yaitu berupa 2 (dua) buah gendang manca, 1 (satu) buah garantung atau biasa disebut gong suku Dayak. 
  • Dilakukan oleh dua orang berbeda sisi, dipisahkan oleh gapura, pasangan pesilat itu mewakili pihak laki-laki dan perempuan. Mereka saling beradu bukan untuk berkelahi, melainkan untuk mencapai tujuan bersama.
  • Para pesilat berusaha memutus rintangan yang di pasang di Lawang sakepeng yang berbentuk gapura dan diberi 3 utas rintangan benang, pada benang penghalang dibuat berbaris 3 dari atas ke bawah dan dipasang bunga agar kelihatan indah dan menarik. 
  • Dilakukan oleh dua lelaki dewasa yang memiliki kepandaian bermain silat, namun sekarang ada yang menggunakan empat orang lelaki dewasa yang saling berhadapan dengan formasi 1 lawan 1 atau 2 lawan 2 dari kedua belah pihak laki-laki dan perempuan. 
  • Agar pihak laki-laki dapat masuk dan menikahi calon istri maka harus mampu melewati Lawang (gapura) yang diberikan tali pemisah, tali ini yang harus diputuskan oleh para penari sakepeng. Dengan kemahiran bermain silat itu, para pemain harus paham cara dan trik kapan waktunya untuk menyerang serta memukul lawan tanpa mengakibatkan cedera dan mampu pula menangkis serangan lawan. 
  • Pemain Lawang sakepeng harus memutuskan tali pemisah tadi adalah pemain dari pihak mempelai laki-laki. Filosofi benang pertama adalah menggambarkan putusnya halangan marabahaya yang terdapat dalam hidup dan kehidupan berkeluarga, tali kedua menggambarkan putusnya hubungan yang tidak baik antara keduanya untuk melakukan aktivitas berumah tangga, sedangkan tali ketiga adalah memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan maut.

Penulis: Yudha

Editor: Alma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat post lainnya