K.P. SHK

Warga Rotan Sisere

Dusun Sisere seperti layaknya dusun-dusun lain di pedalaman hutan Sulawesi, tempat berdiam diri masyarakat lokal (adat) yang menggantungkan hidup dan sumber penghidupannya kepada hasil hutan. Dusun Sisere adalah dusun paling ujung dari Desa Labuan Toposo yang berjarak 20 km dari jalan raya Ibu Kota Kecamatan Labuan. Dusun yang dihuni 100 keluarga merupakan penghasil rotan alam terbesar di Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

“Tidak kurang dari 10 ton per bulan, dusun kami keluarkan rotan. Di sini ada pelaksana (tengkulak, red) yang datang dari Palu. Lewat dua pelaksana, kami pasok rotan ke Palu,” ungkap Kasrudin, ketua kelompok pencari rotan yang beranggotakan 20 orang warga di rumah kepala Dusun Sisere, Desa Labuan Toposo (24/6).

Akses jalan menuju Dusun Sisere yang masih berupa jalan tanah berbatu tidak menjadi penghalang bagi berjalannya ekonomi lokal dari sektor rotan. Warga Sisere masih menjadikan pencarian rotan alam sebagai mata pencaharian pokok sekaligus sebagai sumber modal untuk pengembangan kakao rakyat.

“Mencari rotan pekerjaan utama setiap warga di sini. Hasil penjualan untuk biaya kehidupan sehari-hari dan modal untuk buka kebun kakao, beli bibit, beli pupuk, dan obat kakao,” tambah Kasrudin.

Jenis rotan yang dikumpulkan pencari rotan di Sisere ada beberapa jenis. Yaitu rotan batang, lambang, ombol, tohiti, noko, dan rotan pahit. Rotan yang tumbuh dan berkembang dari bekas panen pertama di Sisere dikenal dengan sebutan rotan toki.

“Semua jenis rotan dibeli oleh pelaksana. Pelaksana kasih panjar (uang muka, red) sesuai yang diminta pencari rotan. Saya pernah jadi penghubung pelaksana. Untuk penghubung ini saya dikasih prosen 2.500 per 100 kg. Tugas saya hanya kumpulkan rotan-rotan dari pencari rotan, selain saya juga pencari rotan,” ungkap Kasrudin bagaimana rotan-rotan dikumpulkan yang kemudian diangkut menuju Palu.

Walau harga jual rotan ditentukan oleh pelaksana, pencari rotan cukup beruntung dibanding menyetorkan langsung ke penampung rotan di Kota Palu. Biaya pengiriman sendiri oleh kelompok pencari rotan memakan biaya lebih tinggi dibanding pelaksana datang membeli dan menimbang rotan di Dusun Sisere.

“Satu surat angkut seharga 40 ribu, sewa truk 700 ribu sekali angkut, bayar pos-pos jaga sampai kota kecamatan 80 ribu. Kalau ada patroli polisi biasanya biaya-biaya itu tambah hingga 300 ribu lagi. Belum lagi kami tidak paham cara jualnya, ditimbang rotan di dusun 100 kg, sampai di Palu jadi separuh beratnya,” jelas Kasrudin yang sempat membuat kelompok pencari rotan baru beranggotakan 8 orang yang langsung kirim rotan ke Palu.

Harga rotan di Dusun Sisere, 120 ribu per 100 kg rotan. Menurut Kasrudin yang bergelut sebagai pencari rotan alam di pedalaman hutan di Gunung Toposo dari tahun 1987 hingga sekarang, harga per 100 kg rotan tidak pernah berubah.

Ada Rotan, Ada Hutan

Rotan alam banyak ditemukan di kawasan yang masih memiliki tegakan pohon. Hutan di Kabupaten Donggala adalah sumber penghidupan bagi para pencari rotan seperti warga Dusun Sisere.

“Hampir semua dusun di desa-desa di Kecamatan Labuan adalah dusun para pencari rotan dan petani kakao. Kawasan hutan di Kabupaten Donggala, dari 500.000 hektar kini tinggal 350.000 hektar yang berhutan, yang memberikan sumber rotan alam bagi warga dusun di sekitar dan dalam kawasan hutan,” jelas Ardin Tahir, Direktur SHK Sulteng, saat menemani KpSHK bertandang ke beberapa dusun pencari rotan di Donggala.

Masih tersedianya rotan alam di sekitar dan di dalam kawasan hutan mengindikasikan masih adanya tegakan hutan di kawasan tersebut. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Kepala Dusun Sisere, Alirman, yang juga sebagai pencari rotan.

“Kami bergantung hutan, rotan ini kami bisa cari di hutan sana, hutan habis rotan akan habis. Rotan tak ada, kami orang tak bisa bertani kakao,” ujar Alirman, Kepala Dusun Sisere, di kediamannya. (tJong).

Leave a Reply

Lihat post lainnya