K.P. SHK

Sepuluh Langkah Emas Restorasi

Restorasi muncul sebagai solusi berbasis alam yang efektif untuk masalah perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati saat ini. Selain membantu memitigasi dampak perubahan iklim melalui penyerapan karbon, restorasi juga membantu memulihkan keanekaragaman hayati dan menghasilkan keuntungan ekonomi bagi masyarakat lokal.

Restorasi adalah proses pemulihan ekosistem atau habitat yang telah mengalami kerusakan, degradasi, atau gangguan karena bencana alam atau aktivitas manusia.

Pengelolaan Terpadu Ekosistem Hutan Gambut di Kabupaten Kahayan Hilir merupakan program perlindungan dan restorasi hutan gambut ini melibatkan 4 Hutan Desa (HD) di kawasan gambut di Kabupaten Pulang Pisau. Empat HD tersebut yaitu Buntoi, Gohong, Kalawa, dan Mantaren I yang dilaksanakan oleh KPSHK.

“Kegiatan program ini meliputi penguatan Kelembagaan Pengelola 4 LPHD dan 23 kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS), penguatan pengelolaan hutan dan gambut berkelanjutan berbasis masyarakat, pemberdayaan mata pencaharian, dan pengelolaan proyek, pemantauan, pelaporan dan evaluasi untuk mencapai tujuan keberlanjutan hutan gambut dan ekonomi masyarakat” Jelas Aftrinal Selaku Project Manager KPSHK.

Restorasi juga sangat penting untuk mengurangi emisi karbon dan mengatasi krisis perubahan iklim karena pohon dapat menyerap karbon dioksida dari atmosfer melalui proses fotosintesis.

Restorasi menjadi semakin penting dan relevan saat ini karena perdagangan karbon semakin marak. Di wilayah Hutan Desa, KPSHK telah melakukan rehabilitasi lahan gambut. Penanaman menggunakan jenis bibit tanaman kayu dan MPTS. Sebanyak 88.619 bibit telah ditanam di empat hutan desa, menurut data yang dikumpulkan oleh tim GIS dan penanaman KPSHK.

“Bibit tanaman kayu seperti Balangeran (Shorea balangeran), Jelutung (Dyera lowii), dan Pulai (Alstonia spatulate). Jenis MPTS seperti Gemor (Nothaphoebe coriacea) dan Paken (Durio kutejensis)” ungkap Aftrinal

Dalam pemulihan gambut terdegradasi, KPSHK juga telah membangun infrastruktur pembasahan kembali gambut seperti sekat kanal (canal blocking) sebanyak 7 yang tersebar di 4 hutan desa. Sekat kanal adalah bangunan penahan air yang dibangun di badan kanal atau parit. Tujuan dibangunnya sekat kanal untuk mengurangi laju aliran keluar dan mempertahankan dan/atau menaikkan simpanan air pada badan kanal dan daerah sekitarnya. Prinsip kerja sekat kanal adalah menahan dan menampung air selama mungkin di pada Kawasan gambut yang terdegradasi.

Dalam upaya menanggulangi Karhutla dan mengurangi dampak kebakaran serta persiapan sebelum musim kemarau apabila di lokasi terjadi peristiwa kebakaran hutan dan lahan gambut tidak tersedia sumber air, KPSHK juga membangun sumur bor sebanyak 40. Sumur bor merupakan salah satu teknik pembasahan saat musim kemarau yang dapat diterapkan dilapangan guna membasahi kembali gambut yang sudah kering dengan cara memompa cadangan air tanah yang ada di lapisan akuifer dan disiramkan pada daerah – daerah gambut yang tingkat kelembabannya kurang sehingga gangguan fisik-morpologis gambut dan peluang bahaya kebakaran bisa dikurangi. Menurut Artikel Global Change Biology berjudul Ten Golden Rules For Reforestation To Optimize Carbon Sequestration Biodiversity, terdapat sepuluh langkah atau aturan emas untuk restorasi yang dapat membantu mengoptimalkan penyerapan karbon, pemulihan keanekaragaman hayati, keuntungan mata pencaharian, dan relevansi dengan perdagangan karbon.

Pertama, menjaga hutan yang sudah ada. Melindungi hutan yang masih ada adalah langkah pertama dan paling penting. Keanekaragaman hayati dan penyerapan karbon sangat penting untuk hutan primer dan sekunder yang utuh. Restorasi tidak dapat sepenuhnya menggantikan kerugian yang disebabkan oleh deforestasi, sehingga perlindungan hutan yang ada harus menjadi prioritas utama. Hutan yang dilindungi juga dapat berfungsi sebagai sumber kredit karbon yang signifikan dalam konteks perdagangan karbon.

Kedua, bekerja sama dengan masyarakat lokal. Setiap tahap proyek restorasi membutuhkan partisipasi aktif dari komunitas lokal. Melibatkan masyarakat lokal dapat meningkatkan dukungan proyek, keinginannya, dan keberhasilannya. Selain itu, kerja sama ini memastikan proyek memenuhi kebutuhan lokal dan menghindari konflik kepentingan. Dalam skema perdagangan karbon, keterlibatan komunitas lokal dapat memastikan bahwa manfaat ekonomi dari kredit karbon dapat dirasakan oleh mereka yang tinggal di sekitar hutan.

Ketiga, berusahalah untuk memulihkan keanekaragaman hayati untuk mencapai berbagai tujuan. Pemulihan keanekaragaman hayati harus menjadi fokus utama restorasi yang berhasil. Selain meningkatkan penyerapan karbon, pemulihan keanekaragaman hayati memberikan banyak manfaat sosial-ekonomi. Hutan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dapat menghasilkan kredit karbon yang lebih bernilai dalam konteks perdagangan karbon karena mereka menawarkan manfaat ekosistem tambahan.

Keempat, pilih lokasi yang cocok untuk restorasi. Saat memilih lokasi untuk restorasi, ada baiknya mempertimbangkan area yang sebelumnya tertutup hutan. Lanskap yang lebih berkelanjutan dan efisien dapat diciptakan dengan menghubungkan atau memperluas hutan yang ada. Sangat penting untuk memastikan bahwa masalah deforestasi tidak menyebar melalui restorasi. Selain itu, wilayah harus dipilih dengan bijak untuk mengoptimalkan penyerapan karbon dan manfaat keanekaragaman hayati.

Kelima, gunakan regenerasi alami di mana saja memungkinkan. Regenerasi alami sering kali lebih murah dan lebih efisien dibandingkan dengan penanaman pohon baru. Jika kondisi alamiah mendukung, biarkan alam melakukan tugasnya sendiri. Ini bekerja paling baik di area yang sedikit terdegradasi atau yang dekat dengan hutan yang ada. Dalam konteks perdagangan karbon, regenerasi alami dapat mengurangi biaya proyek dan meningkatkan nilai kredit karbon yang dihasilkan.

Keenam, menanam spesies untuk memaksimalkan keanekaragaman hayati. Untuk meningkatkan keanekaragaman hayati, selalu tanam berbagai spesies pohon. Untuk memastikan bahwa ekosistem yang dibangun sesuai dengan lingkungan alamiah, gunakan sebanyak mungkin spesies asli. Adakan spesies langka, endemik, dan terancam, dan hindari spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan nilai ekosistem tetapi juga nilai kredit karbon.

Ketujuh, Gunakan Bahan Tanaman yang Tangguh. Pastikan bahan tanaman yang digunakan memiliki variabilitas genetik yang tepat . Hal ini akan meningkatkan ekosistem ekosistem terhadap serangan hama dan perubahan iklim. Untuk memastikan bahan tanam sesuai dengan tempat restorasi, perhatikan asal-usulnya. Dalam skema perdagangan karbon, penggunaan bahan tanaman yang tangguh memastikan keberlanjutan proyek dan stabilitas kredit karbon.

Selanjutnya, Rencanakan Infrastruktur di awal. Untuk memastikan keberhasilan dan efisiensi proyek, perencanaan infrastruktur yang diperlukan sejak awal proyek. Gunakan sumber daya lokal, kapasitas, dan pasokan rantai yang ada. Gunakan benih standar yang tepat dan berikan pelatihan yang diperlukan kepada tim lapangan. Infrastruktur yang baik memastikan bahwa proyek restorasi dapat berjalan lancar dan menghasilkan kredit karbon yang berkelanjutan.

Lalu, Belajarlah sambil melakukannya. Proyek restorasi harus dipantau dan dievaluasi secara teratur. Teliti data saat ini, lakukan uji coba, dan ubah sistem berdasarkan hasil. Gunakan metrik yang tepat untuk memastikan tujuan proyek tercapai dan terus memperbaiki metode yang digunakan. Dalam perdagangan karbon, pemantauan dan evaluasi yang efektif memastikan pengiriman kredit karbon yang akurat dan metode pengembangan yang berkelanjutan.

Terakhir, buat program yang menghasilkan keuntungan. Pastikan proyek restorasi menghasilkan keuntungan ekonomi. Sumber pendapatan dapat berasal dari kredit karbon, produk hutan non-kayu/produk hutan non-kayu (NTFP), dan layanan ekosistem seperti pengelolaan air dan budaya. Pastikan komunitas miskin dan pedesaan menerima keuntungan ekonomi ini untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Skema perdagangan karbon dapat memberikan pendapatan tambahan yang signifikan, mendukung keberlanjutan proyek, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Program restorasi dapat memulihkan keanekaragaman, mengoptimalkan penyerapan karbon, dan menguntungkan masyarakat lokal dengan mengikuti sepuluh aturan emas ini. Restorasi yang direncanakan dan dilaksanakan dengan benar tidak hanya akan membantu mengatasi tantangan lingkungan global tetapi juga akan menciptakan ekosistem yang produktif dan berkelanjutan untuk generasi mendatang. Dalam konteks perdagangan karbon, program restorasi yang berhasil dapat menghasilkan nilai ekonomi yang signifikan, mendukung upaya global untuk mengurangi perubahan iklim, dan memastikan bahwa semua pihak yang terlibat menerima manfaat berkelanjutan.

Penulis: Alma Tiara

Editor: Joko W/Aris

Sumber:

Global Change Biology – 2021 – Di Sacco – Ten golden rules for reforestation to optimize carbon sequestration  biodiversity.pdf

Leave a Reply

Lihat post lainnya