K.P. SHK

Rotan, Sang Idola yang Tenggelam

Sebuah release tentang Perkembangan Produksi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sampai dengan Mei 2009 menunjukkan hasil yang mencengangkan. Dari 19 Kabupaten di Dua Provinsi (Sumatera Selatan dan Bangka Belitung) hanya ada satu produk HHBK yang menampakkan tingkat produksi yang menggembirakan. Sebanyak 95,8 Ton dan 81.540 batang rotan dihasilkan dari komoditas HHBK di hutan alam Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Sedangkan untuk 18 kabupaten lain, laporan perkembangannya masih belum diterima. Untuk tahun 2009, Kabupaten Pasaman Sumbar juga mengeluarkan Target sebanyak 105.060 m3 dengan realisasi pada bulan Januari sebanyak 30.030 m3.

Kuota ekspor rotan sesuai Permendag No. 33/M-DAG/PER/7/2009 yang merupakan perubahan keempat atas Permendag No.12/M-DAG/PER/6/2005 tentang ketentuan ekspor rotan. Angka tersebut diatas sudah bisa menutupi target pemerintah karena sampai Juni 2010, hanya 25.000 ton rotan asalan dan 52.000 ton rotan setengah jadi yang bisa diekspor. Dengan kata lain, hanya dengan bersandar dari 2 kabupaten tersebut, Indonesia sudah bisa memenuhi target ekspor rotannya.

Ada hal yang menarik disini, bahwa tidak ada yang menyangkal kalau Indonesia merupakan pemasok terbesar industri kerajinan HHBK – Rotan terbesar di dunia (80%), disamping Vietnam, Myanmar, Thailand, Philipina dan beberapa negara lainnya (via Dept Perindustrian, 2006). Ketersediaan bahan baku yang melimpah, baik yang tersedia dialam maupun yang sudah dibudidayakan oleh masyarakat melalui program – program pemberdayaan masyarakat. sebut saja daerah – daerah seperti; Pelepat Eheng, Jengan Danum, Lambing, Bentian, Tukqu, Tende, Renda di Kalimantan Barat, atau Mangatip, Mahanjandau, Sungai Jaya, Pulau Kaladan, Mantangai Hilir, Mandomai and Katimpun di Kalimantan tengah. Industri pengolah rotan di jawa akan berpikir untuk menerima produk rotan dari daerah tersebut.

Di tilik dari perkembangannya, puncak dari perkembangan komoditas rotan Indonesia terjadi pada tahun 2004, dimana tingkat produksi rotan mencapai 1.880.503,07 Ton. Diantara komoditas HHBK unggulan lainnya, seperti lebah madu, sutera, gaharu dan bambu, hanya rotan yang menunjukkan fluktuasi yang mencolok. Sebelum tahun 2004, produksi rotan memang relatif kecil (< 100,000 ton), dan kecenderungan menurun kembali terjadi paska 2004, dimana dalam 3 tahun terakhir produksi rotan semakin menurun, bahkan pada tahun 2006 produksi rotan hanya mencapai 24.554,33 ton saja. Hal ini juga diikuti dengan mundurnya industri rotan lokal di pulau jawa. Data terakhir menyebutkan hampir 60% industri pengolahan rotan di Cirebon dan Surabaya gulung tikar.

Rencana pengembangan juga dilakukan untuk daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara (Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan HHBK Nasional, 2008). Satu hal yang menjadi perhatian, apakah pengembangan komoditas rotan di dua provinsi tersebut akan mengalami nasib yang sama dengan produsen – produsen rotan sebelumnya? Akan dikemanakan nantinya hasil dari produksi rotan di kedua provinsi tersebut? Jelas ini akan makin membelitkan masyarakat yang masih menggantungkan hidupnya dari rotan. (nino)

2 thoughts on “Rotan, Sang Idola yang Tenggelam

  1. Pingback: Nike Free Run

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat post lainnya