K.P. SHK

Perjumpaan Guni dengan Sosok Penjaga Hutan Desa Buntoi 

Gemulai angin yang tenang dan rumput bergoyang, melambai seakan menyapa teriknya sang surya menyinari tubuh tegap seorang manusia dengan warna baju yang sama dengan pemilik cahaya yang terik siang itu. Dia adalah Guni (40), anggota Tim Patroli Karhutla (TPK) Buntoi yang siap menjaga hutan desa dari Karhutla.

Patroli Karhutla (TPK) adalah tim yang terdiri dari personel terlatih khusus untuk melakukan patroli, pengawasan dan penanggulangan awal kebakaran hutan dan lahan. Hari Selasa (23/01), Guni dengan sengaja berpatroli ke Hutan Desa Buntoi untuk meninjau keadaan dan situasi hutan meskipun sudah terkendali tidak ada titik api, Guni sangat menikmati patroli sebagai refresh semata melihat hijaunya hutan.

Ketika berjalan menyusuri hutan setiap langkah, sejauh mata memandang ada pohon bergoyang seakan ada sesuatu yang sedang bermain di pohon tersebut. Perlahan Guni mencoba menepis jarak jauh sehingga dengan jelas Guni melihat sosok asli penjaga hutan desa yang jarang sekali terlihat. Sosok yang sedang membelakanginya nampak bersantai dengan tangan menggantung di cabang pohon menikmati angin sepoi yang melewati dirinya dan berteduh dibawah teriknya matahari. Seakan mendapat hadiah yang langka, Guni memotret sosok tersebut namun sosok yang sensitive akan kehadiran Guni sehingga langsung berayun pergi secepat kilat masuk ke dalam hutan. Sosok yang seakan menjaga hutan namun langka terlihat ini adalah Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

“Siang itu, dari kejauhan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri berwarna merah gelap kecokelatan, langsung tahu kalau itu sosok penjaga hutan desa, tidak lain ya Orangutan” Ucap Guni dengan Bahagia karena bisa bertemu Orangutan.

Sebagai primata endemik yang suka menetap di pepohonan, orang utan dapat menghabiskan waktu hingga lima kali dalam sehari untuk makan. Tentu saja aktivitas ini dilakukan di atas pohon. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) lebih besar dan memiliki rambut yang lebih pendek berwarna coklat gelap atau kemerahan. Diantara dua spesies Orangutan lainnya, hanya orang utan jantan Kalimantan yang tidak memiliki janggut. Orang utan dewasa Kalimantan memiliki bulu dominan warna cokelat gelap, bantalan pipi melebar yang membuat wajahnya terlihat bulat, dan beratnya bisa mencapai 150 kilogram.

Dikutip dari Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), saat ini populasi Orangutan Kalimantan diperkirakan sebesar 57.350 individu. Pada tahun 1973, estimasi populasi Orangutan Kalimantan sebanyak 288.500 individu. Itu berarti terjadi penurunan sebanyak 80% dalam waktu kurang dari 50 tahun. Penurunan tajam populasi Orangutan Kalimantan, utamanya disebabkan kehilangan habitat hutan. Kebutuhan global yang terus meningkat juga berdampak pada industri agrikultur, pertambangan, dan perkayuan.

Menurut Guni bahwa orangutan menjadi simbol yang menjaga hutan desa dengan baik. Hewan langka ini sangat sulit ditemui dan hanya kebetulan semata, jika bertemu pun Orangutan akan mengetahui keberadaan kita.

“Penemuan Orangutan ini patut sekali kita syukuri karena masih ada keberadaannya di hutan desa, berarti kita sebagai manusia harus menjaga dan melindungi keberadaan Orangutan yang sudah langka kita temui dan itu suatu keharusan untuk menjaga keanekaragaman hayati hutan desa” Jelas Guni

Semua spesies Orangutan terdaftar dalam Appendix I di Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Tanpa adanya tempat berlindung, kehidupan orangutan akan lebih rentan.

Guni menyampaikan bahwa selama berpatroli, berjumpa dengan sosok penjaga hutan desa menjadi pengalaman bahagia. Melindungi Orangutan, menjaga hutan desa dan melestarikan keanekaragaman hayati.

Penulis: Alma Tiara

Editor: Tjong Paniti

Sumber:

Laporan Kegiatan Tim Patroli Karhutla

https://www.orangutan.or.id/

Leave a Reply

Lihat post lainnya