K.P. SHK

Pencegahan Kebakaran Melalui Restorasi Gambut

Diselenggarakan oleh CIFOR-ICRAF (Center for International Forestry Research-World Agroforestry Center), Pusat Studi Bencana, Universitas Riau, Sedagho Siak, dengan dukungan dari Temasek Foundation dan Singapore Cooperation Enterprise di Jakarta, tanggal 30 Agustus 2023

Kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 di Indonesia menjadi tonggak transformasi pengelolaan lahan gambut dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Sejak saat itu, inisiatif diperkuat dengan memasukkan restorasi gambut terdegradasi dan meningkatkan Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Berbagai program dan insentif didorong oleh berbagai pihak, baik di tingkat tapak maupun di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Pada tahun 2019, kebakaran kembali terjadi di berbagai tempat di Indonesia meskipun dalam skala yang lebih kecil. Program, kampanye, dan upaya “zero burning” dan restorasi gambut terus digalakkan, tetapi proyeksi musim kemarau ke depan menguji sejauh mana upaya dan pendekatan tersebut berhasil.

CIFOR, PSB UNRI, dan Sedagho Siak memfasilitasi pengembangan model pencegahan kebakaran berbasis masyarakat di Kampung Kayu Ara Permai dan Penyengat, Kabupaten Siak dengan dukungan dari Temasek Foundation dan Singapore Cooperation Enterprise. Pengembangan model ini merupakan bagian dari penelitian aksi partisipatif yang telah dilakukan sejak tahun 2021 di Siak dan merupakan perluasan dari penelitian serupa di Bengkalis pada tahun 2018-2020. Penelitian ini merupakan bagian dari program besar yang bertujuan untuk mendukung pencapaian tujuan jangka panjang restorasi gambut melalui perubahan perilaku masyarakat dalam penyiapan lahan tanpa bakar. Model yang telah diinisiasi menunjukkan potensi pengelolaan gambut berkelanjutan melalui pemilihan komoditas dan penerapan praktik ramah gambut. Harapannya dapat mentransfer temuan dan pengetahuan kepada pemangku kepentingan lainnya untuk perluasan lebih lanjut. Sebagai bagian dari upaya ini, dikembangkan toolbox yang terdiri dari empat publikasi pencegahan kebakaran dan restorasi lahan gambut berbasis masyarakat.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyebarluaskan temuan penelitian dan meluncurkan/ memperkenalkan toolbox tentang pencegahan kebakaran dan restorasi lahan gambut berbasis Masyarakat dengan target peserta adalah pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi internasional, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat, kelompok masyarakat, jurnalis internasional, jurnalis nasional, dan jurnalis daerah.

Kegiatan luring dilaksanakan di Restoran Seribu Rasa, Menteng, Jakarta Pusat sedangkan kegiatan daring melalui Zoom Meeting.

Prof. Dr. Herry Purnomo selaku Senior Scientist CIFOR-ICRAF memberi sambutan. Kemudian dilanjutkan oleh Mr Rogier J.M. Klaver. Mr Eric Lee dari Singapure Cooperation Enterprise memberi gambaran kegiatan ini. Ditutup oleh Bapak M. Askary selaku Directorate of Peat Ecosystem Destruction Control, MoEF. Sementara Bapak M. Yusuf memberi pencerahan tentang restorasi gambut. Mengutarakan tentang gagasan terhadap perlindungan lembaga berbasis komunitas melalui metode pembasahan gambut untuk menjaga kelembaban. Restorasi berbasis komunitas ini, pertama menyiapkan Masyarakat, kedua mengedukasi sehingga terjadi perubahan perilaku, ketiga penguatan kelembagaan desa dan antardesa untuk kepentingan bersama, dan keempat menjadikan agenda Pembangunan.

Menariknya, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi dengan empat pertanyaan mendasar.

  1. Apa saja upaya para pihak dalam mencegah karhutla di tahun-tahun mendatang dan bagaimana perkembangan dan dampak dari upaya-upaya ini?
  2. Bagaimana peran dan kontribusi para pihak dapat dikoordinasikan melalui kerangka kebijakan pencegahan karhutla dan restorasi gambut?
  3. Bagaimana pelibatan masyarakat dalam pencegahan kebakaran dan restorasi gambut di tingkat tapak?
  4. Bagaimana upaya pencegahan karhutla dan restorasi gambut yang sudah ada bisa diperluas?

Melalui diskusi tersebut dijelaskan cara Kabupaten Siak menggandeng lembaga lain untuk penanganan Karhutla. Diupayakan kesejahteraan terhadap masyarakat, tetapi alam terjaga. Karena 52% lahan Kabupaten Siak adalah lahan gambut, menjadi tantangan untuk dapat menyelesaikan Karhutla di samping adanya Upaya untuk mengetuk pintu dunia dalam membantu produk masyarakat meningkatkan nilai ekonomi. Jadi bencana yang terjadi adalah berkah memberi lapangan kerja anak-anak muda di Kabupaten Siak.

Leave a Reply

Lihat post lainnya