K.P. SHK

Ngaruhi: Teknik Mencari Ikan Tradisional Suku Dayak

Foto di bawah menunjukkan masyarakat yang mengendap-ngendap dengan wajah serius dan beberapa yang tersenyum di sebuah Sungai yang terlihat keruh. Sepertinya masyarakat sedang mencari sesuatu di sungai. Pemandangan yang dilihat menunjukkan aktivitas “ngaruhi” atau “mangaruhi”, yang merupakan bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Suku Dayak. Ngaruhi dalam Bahasa Dayak, artinya cari ikan dan mangaruhi artinya mencari ikan.

“Ayo, nekap laok ah. cuba nalih silan kanih, ayo saok hindai. ela manyarah.

Terdengar teriakan orang yang berkumpul di sekitar tepian sungai. Teriakan yang disampaikan menggunakan bahasa Dayak Ngaju yang artinya ayo, tangkap ikannya, coba ke tepian sebelah sana, ayo serok lagi, jangan menyerah.

Ngaruhi adalah kegiatan mencari ikan tanpa menggunakan alat apapun, hanya menggunakan dua tangan di sungai kecil pada saat musim kemarau. Kegiatan dilakukan oleh seluruh masyarakat sekitar sungai yang berada di desa. Ngaruhi sering dilakukan oleh masyarakat adat, seperti suku Dayak Ngaju saat mengadakan pesta atau syukuran. Kegiatan tradisional ini sudah secara turun temurun dilakukan. Ngaruhi biasanya dilakukan oleh usia dewasa. Tradisi ini biasa dilakukan masyarakat ketika memasuki musim kemarau. Salah satunya di Desa Mantaren I yang masih melakukan tradisi ini. Tampak masyarakat Mantaren I seolah memilah-milah mencari dan meraba sesuatu (ikan) di dalam sungai.

“Ngaruhi merupakan tradisi atau budaya Suku Dayak sehingga saat musim kemarau. Masyarakat akan melakukan ngaruhi di sungai yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Sama halnya dengan Desa Mantaren I yang hari ini melakukan ngaruhi. Tidak dapat dipungkiri jika setiap memasuki musim kemarau, masyarakat akan melakukan kegiatan ngaruhi,” ucap Abdul Azis selaku Field Officer KPSHK yang menjadi saksi mata kegiatan ngaruhi dilaksanakan di Desa Mantaren I.

Namun, ada juga ngaruhi yang menggunakan alat. Alat yang digunakan untuk kegiatan ngaruhi ialah tangguk atau saok. Menurut bahasa Dayak, tangguk atau saok digunakan untuk menyerok ikan. Hasil tangkapan ikan yang telah diserok akan disimpan pada wadah yang dipikul pada punggung. Wadah untuk menyimpan hasil tangkapan ikan disebut luntung oleh masyarakat Dayak.

Ngaruhi tidak hanya dilakukan ketika air sungai mulai surut saja, tetapi juga dilakukan pada saat ritual masyarakat besar dan kegiatan seni dan budaya. Selain itu, perayaan hari besar biasanya mengubah ngaruhi menjadi kompetisi bagi masyarakat. Kadang-kadang ini juga dilakukan di kolam buatan atau yang berlumpur. Orang yang melakukannya harus mengaduk-aduk lumpur kolam untuk membuat ikan-ikan di dalamnya mabuk karena keruh atau hempasan lumpur dari air kolam. Ini adalah saat ikan muncul dan dapat ditangkap. Pada saat lomba juga, biasanya jenis ikan dan lamanya waktu telah ditentukan agar masyarakat lain bisa mengikuti lomba ngaruhi juga.

Lomba ngaruhi biasanya dilakukan dalam kelompok atau perwakilan, yang terdiri dari empat sampai delapan orang dalam satu kelompok. Sementara itu, selama lomba, ikan yang berhasil ditangkap harus dimasukkan ke dalam keranjang atau luntung yang telah disiapkan dan menempel dipunggung masing-masing orang.  Hasil ngaruhi akan dihitung secara per kelompok. Pemenang ngaruhi adalah kelompok yang menerima jumlah ikan yang paling banyak.

Rokhmond Onasis, yang merupakan masyarakat suku Dayak mengatakan bahwa ngaruhi atau mangaruhi dilaksanakan saat air mulai surut, di mana ikan-ikan banyak berkumpul terkurung karena surutnya air saat musim kemarau. Ngaruhi memiliki makna kebersamaan dan kerja sama, karena tempo dulu ikan yang didapatkan atau hasil ngaruhi akan dimasak dan dimakan bersama-sama.

Penulis: Alma

Editor: Yudha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lihat post lainnya