Bila mendengar nama desa ini, sudah jelas menggambarkan kondisi alamnya. Gambut Jaya, desa yang dikukuhkan sebagai desa definitif pada penghujung tahun 2009 adalah gambaran Desa Gambut yang baru berkembang di tengah himpitan kebun sawit. Penduduknya sangat beragam, dari 789 KK sebagian adalah transmigran asal Jawa yang pada tahun 2001 ditempatkan pada Unit Penempatan Transmigrasi (UPT) Sungai Gelam II, III dan IV. Desa Gambut Jaya terdiri dari tiga dusun dan sebelas RT, yakni; Dusun Kebun Agung, Dusun Tri Mukhti, Dusun Sumber Makmur. Gambut Jaya terletak 60 KM dari Kota Jambi dan 80 KM ke Pusat Ibu kota Kabupaten Muaro Jambi.
Pada awal kedatangan transmigran, mereka diberikan rumah ukuran 5×6 M2, 0,25 ha untuk pekarangan dan 2 ha untuk digarap. Karena sulitnya bertahan hidup di awal-awal penempatan transmigrasi, terutama untuk mendapatkan penghasilan tambahan dan akses air bersih, sebagian besar warga (termasuk perempuan-red) terpaksa harus bekerja sebagai buruh harian lepas (BHL) di perusahaan perkebunan PT BGR (Bahari Gembira Ria) PT Muaro Kahuripan Indonesia / RKK (Makin Groups) dan PT BAM, sebagian yang lainnya bekerja dengan pebisnis kayu racikan (bekayu/ bebalok), dan sebagian lainnya memutuskan untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Bahkan, ada juga yang memilih untuk pindah ke daerah lain atau kembali kekampung halaman.
Lahan pekarangan dan lahan usaha yang mereka tinggalkan, di pindah-tangankan/ tukar nama, dijual kepada trans pengganti dengan harga murah, hanya berkisar antara satu sampai empat juta rupiah. Keluhan ini disampaikan oleh Rasyim (40), seorang petani plasma dalam suatu perbincangan dengan tim.
Lain halnya dengan Sutarno (38), Transmigran yang juga petani plasma mengenai kondisi gambut tempat mereka tinggal. “Dulu saat kami datang, masih kesulitan soal pekerjaan, ada yang bekerja sebagai buruh di perkebunan PT BGR, ada yang ikut bebalok, ada yang mencari pekerjaan di luar desa ini, dan ada juga teman-teman yang menjual lahannya (tukar guling) dengan harga murah karena tidak tahan dengan kenyataan saat itu yang tidak sesuai dengan apa yang diceritakan pihak Pemerintah (Disnakertrans) pada saat keberangkatan dulu, dimana kami tinggal menempati rumah dan menerima kebun.”
“Kami juga mencoba untuk menanam berbagai tanaman palawija. dan sayur-sayuran, namun belum bisa tumbuh dengan baik. Sekitar 2-4 tahun kemudian, barulah bisa ditanam, itupun harus hati-hati mengelola tanah gambutnya. kata orang-orang kadar asam tanah terlalu banyak”. tambah Sutarno mengenai upaya yang dilakukan masyarakat Gambut Jaya untuk Bertahan Hidup.
Mencoba Bertahan
Warga transmigrasi yang masih bertahan dan menetap di UPT Sungai Gelam II, III dan IV ini mencoba menanami beragam tanaman di lahan pekarangan seluas 0,25 Ha milik mereka, namun pada umumnya mengalami kegagalan. Dari sekian tanaman yang telah di uji coba, diawal-awal kehadiran mereka hanya buah labuh yang cocok dibudidayakan, dua tahun kemudian nanas sudah mulai dapat tumbuh dengan baik, dan empat tahun kemudian sayur kangkung mulai berkembang. Namun, Karena tidak tersedianya pasar yang baik yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi keluarga, lahan seluas 0,25 Ha tersebut akhirnya mulai diganti warga desa dengan tanaman sawit.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk, pada tahun 2009 akhir, UPT Sungai Gelam II, III dan IV ini disahkan dari desa persiapan menjadi desa (definitif) bernama Desa Gambut Jaya, dengan komoditi sawit sebagai tanaman utama. Untuk makanan pokok sehari-hari, warga desa memperolehnya dengan cara membeli di warung-warung milik sebagian warga lainnya, kecuali nanas dan beberapa jenis sayur-sayuran yang masih tetap ditanam di lahan pekarangan oleh sebagian kecil warga desa disela-sela pohon sawit yang masih berumur satu sampai tiga tahun.
Kebakaran besar yang terjadi pada 1997 telah menghabiskan jenis tegakan pohon pada areal yang belum dibuka. Semua jenis kayu hutan yang ada sebelumnya sudah hilang, karena lahan telah dialih fungsikan menjadi perkebunan sawit. Sebelumya, kawasan hutan di areal desa didominasi oleh jenis kayu meranti, jelutung, kempas dan jenis kayu merah seperti rengas. Dan kini, masyarakat Gambut Jaya harus Bertahan di tengah himpitan Kebun Sawit di lahan gambut mereka.


























