Beda Pandang Gambut

Beda Pandang Gambut

Kondisi ekosistem gambut saat ini, masih ada perbedaan persepsi sehingga perlu dijelaskan duduk permasalahan gambut ini. Demikian pembuka yang dikemukakan Huda Ahsani (Bogor, 7/4), Staf Ahli Kementrian Lingkungan Hidup dalam diskusi reguler KpSHK – Ekosistem Rawa Gambut dalam Ragam Kelola. Beliau menambahkan, “Gambut 30 tahun yang lalu tidak pernah tersentuh. Tetapi, sekarang ini seiring dengan pertambahan penduduk dan peningkatan ekonomi masyarakat. Gambut rusak karena daya tampung melebihi daya dukung. Gambut adalah ketebalan tiga meter di hulu sungai atau rawa, tetapi yang dimandatkan dalam UU kurang dapat memenuhi pengertian di atas.

Luas gambut oleh sebagian orang dikemukakan secara berbeda–beda karena terdapat perbedaan pandangan, gambut merupakan tanah yang terbentuk pada lahan organik. Rawa adalah komponen hidrologi. Hutan rawa gambut, kunci strategi ke depan. Akibat interfensi manusi yang menyebabkan degradasi. Hutan rawa gambut memiliki tiga komponen, yaitu : rawa, hutan dan gambut.” tandas Iwan Tri Cahyo (Yoyo), mewakili Wetlands International-Indonesia Program di kesempatan lain dalam acara di Aula Komodo-Gedung PHKA Bogor, rabu kemarin.

Lain halnya dengan pendapat perwakilan masyarakat yang juga berkesempatan berbagi pengalaman untuk tetap bertahan hidup di tanah berair tersebut. Andi Arifubillah (37), Putera kelahiran Tangkit Baru yang juga mantan Kepala Desa dalam paparannya tentang bagaimana strategi keluarga-keluarga yang tinggal di wilayah ekosistem gambut di Muaro Jambi, Jambi. Segala upaya yang dilakukan masyarakat mulai dari mencoba bercocok tanam berbagai macam tanaman palawija dan pertanian yang tidak kunjung membuahkan hasil. “Hanya Nenas yang bisa tumbuh dengan baik di daerah kami. Dengan Nenas ini pula kami mencoba menyambung hidup selama lebih dari 40 tahun tinggal di kawasan gambut”.

Dalam pengelolaan lahan garapan, warga Tangkit Baru kemudian mengembangkan sistem parit yang kemudian diadaptasi juga sebagai batas wilayah antar RT dan kampung yang tertsebar di seluruh Tangkit Baru. Tak heran bila di persimpangan jalan Parit IV di desa tersebut berdiri megah sebuah tugu tiga meter dengan buah nenas sebagai simbol. Nenas tidak bisa dipisahkan dari warga Tangkit Baru. Kini masyarakat juga mengembangkan perikanan darat berupa kolam patin. Kedua komoditas tersebut hingga kini masih menghadapi masalah sama, dalam hal kesulitan pemasaran. “Bila memungkinkan, kami ingin terus mengembangkan komoditas yang sudah terbukti bermanfaat bagi warga kami. Kami tidak tahu, bila kemudian sawit datang, apakah nanti warga akan turut menanamnya. Bagaimana nasib anak cucu kami?”. Sambung Andi, menyangkut mulai banyaknya warga yang menanam sawit di lahan garapan mereka. “Yang saya tahu, setelah 35 tahun produksi sawit, tanah menjadi tidak subur dan tidak bisa ditanami apa-apa lagi. Sedang bila ditanam nanas, kami yakin masih bisa membudidayakannya selama mungkin”.

Nenas yang ditanam warga Tangkit Baru merupakan tanaman yang di kembangkan secara alami, karena dari satu rumpun pohon nenas, akan muncul lagi beberapa tunas nenas, dan ini terus dipelihara oleh masyarakat.

Untuk sama-sama dapat mewujudkan pengelolaan kawasan ekosistem rawa gambut yang lestari, pendekatan tata ruang yang menyeluruh harus dilakukan. Dengan begitu, keinginan dan manfaat dari semua pihak dalam sebuah ruang kelola akan tergambar secara jelas” Huda menjelaskan tentang upaya ke depan menyikapi keragaman persepsi dan bentuk pengelolaan dalam ekosistem rawa gambut.

Dari perbedaan cara pandang dan pengalaman masyarakat tentang pengelolaan ekosistem rawa gambut tesebut, jelas perlu penanganan yang seriusdari berbagai pihak. Sehingga sistem – sistem budaya yang ada harus lebih diperhatikan agar dapat mewakili dan bermanfaat bagi semua pihak. Terlepas apakah akan terkait dari skema-skema penyelamatan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim (Adaptasi, Mitigasi, dan REDD) yang ramai dibicarakan pada kawasan tanah berair ini. “Apapun skema yang diterapkan terutama yang berbasis perdagangan karbon, adalah suatu keharusan untuk terus memiliki manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut” tandas Yoyo sebagai penutup diskusi.

Kirim komentar anda

Kirim Komentar Anda, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *