Punak Tidak Ada Lagi

Punak Tidak Ada Lagi

Sampai akhir 90-an masih banyak ditemui beberapa jenis kayu keras di sekitar sini. Diantaranya sangat berguna untuk masyarakat Kumpeh, yaitu meranti rawa, dan punak (sejenis pohon khas rawa gambut yang memiliki sifat mirip bulian, namun kayunya berwarna kuning-red)” Jelas M Shaleh (48), salah satu putera asli Kumpeh Ulu tentang hilangnya beberapa jenis pohon di kawasan rawa gambut di timur Jambi, tempat kelahirannya.

Sedari dulu, kayu yang ada di rawa gambut memang dimanfaatkan oleh warga asli keturunan Melayu ini untuk pemenuhan kebutuhan pembuatan rumah, hanya saja ada peraturan adat yang harus dipenuhi setiap melakukan pengambilan kayu tersebut. Hanya pohon tumbang dan yang ada di bawah permukaan gambut yang boleh diambil.

Malah sekarang, banyak warga yang mengusahakan tanaman buah-buahan, karena bisa diambil buahnya dan berumur panjang, seperti duku dan durian yang memang menjadi komoditas beberapa desa sepanjang jalan antara Kota Jambi ke Kumpeh. Buah-buah ini dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp. 2.000,-/ kg untuk duku dan Rp. 2.500/buah untuk durian. Duku dan durian dari Kumpeh ini bahkan sudah dijual ke luar pulau lewat pedagang-pedagang yang melintasi jalur tersebut.

Selain duku dan durian, ada beberapa jenis tumbuhan lain yang juga ditanam, namun sebatas untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga atau dalam desa saja, seperti petai, jengkol dan rambutan dengan sistem kebun campur.

Kami juga ingin mempunyai dan mengisi kebun kami dengan berbagai jenis tumbuhan lain. Arang-arang jauh dari pusat kota, sangat sulit untuk mendapatkan beberapa jenis buah, maka dari itu kami berusaha mengupayakan di kebun kami sendiri,” tukas Shaleh, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Desa Arang – Arang ketika ditemui penulis beberapa waktu lalu.

Benih, atau bibitnya, kami bawa dari Palembang, bahkan Lampung bila kami ada kesempatan kesana, hasilnya lumayan untuk sekedar disantap sekeluarga, kalau ada lebih baru kami jajakan di warung-warung. Pembelinya juga baru sekitar warga desa saja,” tambahnya.

Desa Arang-Arang sendiri merupakan pemekaran dari marga (setingkat kecamatan-red) Kumpeh Ulu. Dengan 80% penduduknya merupakan penduduk asli Kumpeh keturunan Melayu, sementara sisanya adalah pendatang dan transmigran. Terbatasnya tanah yang dimiliki oleh warga, maka untuk memenuhi kebutuhan hidup, beberapa warga juga menjadi buruh harian di perkebunan sawit di dekat Desa Arang – Arang (PT. Makin Group, PT StNP – Sumbertama Nusa Pertiwi, dan BSP – Bakrie Sawit Plantation).

Kirim komentar anda

Kirim Komentar Anda, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *