Budidaya Rotan Jahab

Budidaya Rotan Jahab

Oleh : Mohammad Nasir

Rotan Jahab merupakan salah satu jenis rotan yang tidak berumpun, namun berkembang dengan menggunakan akar rimpang yang menjalar ke segala arah. Kemudian pada setiap buku akar rimpang selang 1-2 m, tumbuh batang rotan.

a.  Kesesuaian lahan

Lahan yang cocok untuk membudidayakan rotan jahab adalah tanah alluvial, dipinggir sungai besar, yang sewaktu-waktu tergenang banjir. Dengan kondisi tanah liat atau lempung. Penanaman di areal yang kering, tidak memberikan hasil yang baik.

b. Pemilihan benih (biji) dan anakan (bibit) yang baik

Benih yang baik berasal dari biji yang cukup tua, sehat, tidak keriput dan terkena cukup sinar matahari. Sedang anakan yang baik adalah anakan yang cukup subur dan mempunyai kuncup pucuk.

c. Perlakuan terhadap benih dan anakan

Sama seperti pada rotan sega, biji yang dikumpulkan dari lapangan dimasukkan ke dalam karung dan diinjak-injak kemudian dicuci dan disemaikan.

d.  Penanaman

Penanaman rotan jahab dilakukan dengan membuat jalur yang cukup lebar di daerah pinggir sungai. Kemudian bibit rotan tersebut ditanam dengan jarak kira-kira 8m x 8m. Rotan ini tidak perlu ditanam dalam jarak rapat, karena rimpangnya akan berkembang dan menjalar ke segala arah, asalkan daerah penanaman cukup terkena sinar mata hari.

e.  Pemeliharaan

e.1. Penyiangan

Penyiangan dilakukan dengan sistem lingkaran dengan radius 1 – 1,5m. pada saat rotan jahab belum berkembang. Penyiangan dimaksudkan untuk memberi sinar dan ruang tumbuh yang cukup pada tanaman rotan muda.

e.2. Pembebasan dari naungan

Rotan jahab merupakan tumbuhan pemanjat yang suka cahaya. Oleh karenanya, pohon-pohon yang menaungi areal tersebut sebaiknya ditebang atau diteres, sehingga rotan mendapat sinar yang cukup. Namun, tidak semua pohon yang terdapat di dalam kebun rotan harusn ditebang atau diteres, sebagian ditinggalkan untuk panjatan rotan. Sebab rotan yang menjalar di tanah mempunyai kwalitas yang jelek. Disamping itu pohon-pohon yang mempunyai nilai ekonomi yang penting dibiarkan tetap tumbuh, seperti misalnya pohon madu dan bahan bangunan (pohon lomuq, pudow, kelepisatn) atau pohon buah. Disamping peneresan atau penebangan pohon, liana-liana penggangu juga perlu dipotong agar tidak menyaingi tumbuhan rotan.

f.   Pemanenan

Pemanenan rotan jahab dilakukan setelah rotan cukup tua, yaitu sekitar 6 –7 tahun setelah penanaman dan bila pemanenan dilakukan secara total, maka baru 2 atau 3 tahun kemudian baru dipanen ulang. Rotan yang dipanen adalah yang sudah terkelupas pelepahnya.

8 Comments

  • umar dhani
    February 21, 2010 | Permalink | Reply

    UTK APA BUDIDAYA ROTAN, KOK REPOT ?????????
    ROTAN SDH TAK PUNYA NILAI KOMERSIAL,SUDAH TERGANTI DGN ALUNINIUM & PLASTIK (SINTETIS).
    ANDA TANAM ROTAN TAPI TIDAK TERPAKAI INDUSTRI MEBEL ROTAN DI DALAM NEGERI, PEMERINTAH PUN MELARANG ANDA JUAL KE LUAR NEGERI SEKALIPUN DUNIA INTERNASIONAL MEMBUTUHKANNYA. (KESALAHAN PEMERINTAH URUS ROTAN).
    JANGAN ANDA IKUT KEBODOHAN MENTERI KEHUTANAN & PERDAGANGAN YANG TIDAK PAHAM TENTANG ROTAN.

    • February 23, 2010 | Permalink | Reply

      Pak Umar Dhani, terima kasih telah memerikan respon yang baik buat kita bersama melalui media ini, tetapi saran aja mungkin bapak lupa Caps Lock bapak hidup, (untuk kenyamanan bersama pak baiknya tidak huruf kapital semua pak). Dengan huruf kapital semua, menandakan seperti orang marah pak…

      Terima kasih pak.

  • Moh.Suaib
    February 21, 2010 | Permalink | Reply

    bung Nasir, anda tahu kah pemerintah melarang/menghambat tataniaga rotan ?
    1.Dihambat ekspor rotan melalui Permendag 36/2009, sekalipun tdk terserap di dalam negeri.
    2.Ekspor rotan alam hrs dikupas (tidak berkulit) walaupun rotan natural berkulit kadang lebih mahal harganya di luar negeri.
    3.Dikenakan aturan “wajib pasok” walaupun tidak tahu hrs pasok ke siapa.

    Maka sebaiknya anda pelajari baik2 aturan itu sebelum anda turun mengorbankan banyak rakyat yg anda jerumuskan menanam rotan.

  • February 23, 2010 | Permalink | Reply

    Masyarakat Kalimantan menanam (budidaya) rotan jauh sebelum keluarnya peraturan-peraturan yang menghambat perkembangan industri Rotan di Indonesia.

    Tulisan ini adalah kondisi yang terjadi dilapangan, bukan masukan dari pihak lain, tapi lebih kepada budaya masyarakat itu sendiri.

    Ini yang jadi perhatian, dan sekaligus titik awal untuk kembali menghidupkan rotan sebagai komoditas primadona yang pernah terlupakan… kalau bukan dari kita siapa lagi yang mau memulai.

  • mohammad nasir
    February 23, 2010 | Permalink | Reply

    Saya banyak terima kasih kepada sahabat yang telah memberikan saran dan kritik soal tulisan ini.

    Sejatinya tulisan ini saya buat untuk mengenang bahwa Indonesia pernah menjadi penghasil rotan no. 1 di dunia. Hampir bisa dipastikan rotan hanya akan menjadi kenangan manis di masa silam. Tulisan ini mungkin berguna bagi kelompok-kelompok yang berminat secara individu untuk membudidayakan rotan.

    Saya tahu Mendag telah mengeluarkan aturan itu. Tulisan ini setidaknya tidak berhubungan langsung dengan aturan itu. Seperti yang saya katakan di atas bahwa rotan indonesia akan dikenang dunia bila saatnya nanti sudah musnah. Dan tulisan ini bisa menjadi acuan karena saya menulisnya langsung berdasarkan pengalaman petani rotan di Kutai Barat Kalimantan Timur.

    salam,
    nasir

  • Silam
    April 7, 2010 | Permalink | Reply

    Pak Nasir, saya sangat menghargai tulisan Anda yang sangat membantu bagi kami mengenal lebih jauh mengenai rotan. Meskipun saat ini sedang in rotan sintetis, namun yakinlah bahwa rotan asli akan tetap menjadi bahan furnitur di masa kini maupun di masa mendatang yang artinya nilai ekonomis rotan itu sendiri akan semakin meningkat. Saat ini khan customer luar negeri pun tampaknya sudah mulai melirik kembali rotan asli karena ramah dengan lingkungan. Di masa mendatang produk-poduk yang ramah lingkungan akan semakin banyak dicari sehingga rotan asli akan tetap menjadi salah satu bahan utama dalam pembuatan furniture atau accessories lain yang ramah lingkungan.

    Salam,

    Silam, STP

  • cak pian
    November 8, 2011 | Permalink | Reply

    AAlhamdulillah dan terimakasih pak nasir. Dg tulisan bapak lumayan Jd referensi awal Kami. Dan smoga masih ada yg bisa mengambiil manfaat.

  • Haris
    December 12, 2011 | Permalink | Reply

    Salam Pak Nasir,
    Terima kasih sudah menshare tulisan ini dan saya rasa sangat bermanfaat.
    Saya mau menyanyakan satu hal, apakah ada rotan yang bisa kita budidayakan dengan sintem intensif? maksud saya agar panen tidak terlalu lama. Jadi seandainya kita mau mendorong masyarakat untuk membudidayakannya, mereka tidak perlu menunggu lama sekali waktu panen.

    Terima kasih
    Haris, Banda Aceh

Kirim komentar anda

Kirim Komentar Anda, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Your email is never shared. Required fields are marked *