Rotan Cirebon Masih Menggeliat

Kelangkaan bahan baku rotan untuk industri mebel dan rotan di Cirebon tidak bisa dipungkiri sudah berada pada tahap mengkhawatirkan. Apalagi ‘digosok’ dengan kebijakan stop ekspor rotan bahan baku yang berlaku sejak 1 Januari tahun ini. Penyetopan ekspor bahan baku rotan seharusnya tidak membuat kelangkaan bahan baku rotan di Jawa terutama di wilayah-wilayah pengembang atau industri mebel rotan seperti di Cirebon, Solo dan Jogjakarta, namun kondisinya berbalik rotan bahan baku makin mahal dan makin langka di Cirebon.

Tidak demikian dengan Haji Solihin (57), pengusaha mebel plastik yang kini beralih ke mebel rotan. Menurutnya pengembangan rotan terhambat oleh soal politik kebijakan. Padahal kalau setiap pengusaha mebel rotan dan bahan baku bisa kreatif, pasti mebel rotan Indonesia mampu bersaing dengan produsen mebel rotan dunia.

“Saya dulu memasok mebel rotan setengah jadi ke IKEA, kemudian beralih ke mebel plastik dan sekarang kembali ke rotan lagi. Dan saya tak peduli dengan soal politik di rotan ini. Yang kreatif yang bisa menjawab persoalan rotan,” tutur Haji Solihin kepada penulis di pabrik pengolahan mebel rotannya di Cirebon (10/1).

Haji Solihin yang secara turun temurun bergelut dengan usaha mebel rotan sangat menyayangkan dengan kondisi sekarang. Mantan pengurus ASMINDO ini menyebutkan bahwa tidak ada jenis rotan yang tidak terpakai dalam pengembangan mebel rotan, yang sisa-sisa rotanpun bisa dikembangkan menjadi produk massal dan ekonomis serta bersaing dengan produk-produk mebel plastik.

“Saya sejak 6 bulan beralih lagi ke rotan, sebelumnya di plastik. Dan kembalinya saya ke rotan lagi untuk buktikan jenis rotan apapun bisa dikembangkan untuk mebel rotan. Baru-baru ini saya beli rotan Kalimantan yang kualitas jelek untuk mebel (rotan Kalimantan sebagai hasil budidaya biasa jarang digunakan sebagai bahan baku mebel–red). Ini untuk memenuhi pesanan dari Arab Saudi dan Australia,” ujar Haji Solihin sambil menunjukkan beberapa mebel rotan pesanan dari Australia dan Arab Saudi yang sedang diproses.

Tidak hanya permintaan dari luar, saat ini Haji Solihin memenangkan desain kursi dan meja untuk memasok kursi dan meja inventaris bagi sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dari Kementerian Perindustrian.

“Saya mendapat tantangan dari Kementerian Perindustrian untuk mengembangkan desain dan produk mebel rotan bagi sekolah SD dan SMP. Besok ini saya akan presentasi hasil dan uji kelayakannya di Jakarta. Jadi tidak ada rotan yang tidak terpakai di sini,” ungkap Haji Solihin.

Bergemanya kepailitan industri mebel rotan di Cirebon, Solo dan Jogjakarta sangat politis. Dan belajar dari apa yang dituturkan Haji Solihin politik kebijakan rotan telah menutupi daya lenting industri mebel rotan di sentra-sentra mebel rotan tersebut. Bahan baku rotan 85% ada di Indonesia begitu pula industri mebelnya, terbukti pengusaha kreatif seperti Haji Solihin masih mampu menggeliatkan mebel rotan di Cirebon. (tJong).

Share this post

11 replies on “Rotan Cirebon Masih Menggeliat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *