K.P. SHK

Cara Beternak Madu Kelulut Ala Peternak Madu Buntoi

Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) adalah kelompok usaha Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) yang melakukan usaha berbasis masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Salah satunya yaitu KUPS Madu Buntoi dan KUPS Madu Kalawa yang didampingi oleh KPSHK pada Pengelolaan Terpadu Ekosistem Hutan Gambut (PTEHG) di Kecamatan Kahayan Hilir.

Madu adalah cairan alami dengan rasa manis yang dibuat oleh lebah madu dari ekskresi serangga atau sari bunga atau bagian lain dari tanaman (Gebremarian 2014).  

“Madu Kelulut memiliki ratu lebah dengan ciri badannya besar dan bersayap kuning” Ucap Syaifuddin selaku fasilitator pelatihan budidaya madu kelulut (19/01).

Lebah kelulut terdiri dari dua kelompok yaitu yang reproduktif (lebah jantan dan lebah ratu) dan yang non-reproduktif (lebah pekerja). Kelompok-kelompok ini berbeda secara fisik dan tingkah laku. Satu ratu, ratusan lebah jantan, dan ribuan lebah pekerja hidup dalam satu koloni lebah. Ratu adalah yang paling besar dan paling menarik dari semua lebah lainnya. Lebah pekerja melakukan semua pekerjaan, baik di dalam maupun di luar sarang; ratu hanya menghasilkan telur dan lebah jantan mengawini ratu.  Semua tugas dibagikan secara teratur berdasarkan tingkat usia anggota lebah pekerja (Syafrizal et al. 2012).

Stup madu kelulut di Buntoi. Sumber: KPSHK, Januari 2023

Stup atau rumah lebah dibuat untuk memudahkan pemanenan produk pelebahan dan membuat lebah merasa aman dan nyaman di sarang lebah. Bahan yang digunakan adalah papan yang tidak berbau, bebas bahan kimia, memiliki kekuatan, keawetan, dan ketebalan yang baik.

“Ukurannya 25 x 30 cm atau ada juga 34 x 40 cm untuk tinggi 8 – 9 cm” Ujar Syaifuddin

Syaifuddin menambahkan bahwa papan petai dan jengkol tidak boleh digunakan karena menegeluarkan aroma bau yang mengakibatkan lebah tidak nyaman. Menurut Dewantari (2019) rancang bangun stup lebah Trigona spp dibuat menggunakan kayu hutan yang berserat halus seperti albisia atau kayu pandan hutan dengan ukuran standar yang digunakan 40 x 20 x 15 cm dan 30 x 15 x 10 cm berbentuk kotak sehingga disebut stup sistem kotak.

Selama proses budidaya lebah Trigona spp, kegiatan perawatan stup harus dilakukan secara rutin minimal 4 x dalam 1 bulan, dengan memperhatikan corong masuknya lebah untuk melihat jika corong masih basah maka produksi madu masih bagus dan produktif. Berbanding terbalik jika corong sudah kering, maka madu sudah mulai tidak produktif atau koloni melemah. Pembersihan stup dan sekitarnya dari kotoran untuk menghindari pengganggu lebah datang, penyeprotan racun serangga agar menjaga lebah madu Trigona spp dari gangguan serangga lain seperti semut, laba – laba dan lainnya.

Idealnya, penempatan stup dekat dengan sumber pakan agar produksi lebih banyak atau bisa memanfaatkan pakan alam namun untuk produktivitasnya akan kurang. Menurut Syaifudin bahwa pemeliharaan koloni bisa dilakukan dengan menghindari sentuhan langsung dengan tangan. Lalu disimpan pada tempat naungan, dan penutupnya harus diganti paling tidak 1 tahun sekali.

Penanaman pakan lebah juga dikategorikan berdasarkan lahannya, jika lahan terbuka maka perlu ditanami bunga santos dan bunga air mata pengantin. Namun jika lahannya tertutup atau banyak naunganya maka ditanami bunga kaliandra atau bunga matahari. Bentuk ukuran kotak (stup) menentukan banyak sedikinya madu yang diperoleh, apabila ukuran kotak (stup) tidak sesuai atau besar sehingga menghasilkan madu yang sedikit, karena ukuran yang besar memiliki rongga tidak rapat sehingga semut bisa masuk (Lukman, Hardiansyah, Siahaan 2020).

Penempatan madu yang baik sangat penting untuk keberhasilan peternak lebah madu. Madu kelulut tidak ada massa expire-nya sehingga bisa bertahun-tahun, namun jika ditambah campuran lainnya menyebabkan tidak murni dan mengurangi masa konsumsinya. 

Madu kelulut memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati dan lingkungan. Budidaya madu kelulut menjadi potensi ekonomi berbasis keanekaragaman hayati karena dapat membantu konservasi spesies ini, mendukung kelestarian ekosistem, dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Penulis: Alma Tiara

Editor: Tjong          

Sumber:

Kegiatan Pelatihan Budidaya Madu

Dewantari M. 2019. Pengembangan budidaya lebah madu Trigona spp ramah lingkungan di Desa Antapan Kecamatan Baturinti Babupaten Tabanan. Jurnal Udayana, Vol 18 (1)

Gebremariam T, Brhane G.2014. Determination of quality and adulteration effects of honey from adigrat and its surrounding areas. International Journal Of Technology Enhancements And Emerginng Engineering Research, 2: 2347-4289.

Syafrizal AA, Bratawinata M, Sila, Marji D. 2012. Jenis lebah kelulut (Trigona Spp.) di Hutan Pendidikan Lempake. Jurnal Mulawarman Scientifie 11 (1): 11-18

Lukman, Hardiansyah G, Siahaan S. 2020. Potensi jenis lebah madu kelulut (Trigona spp.) untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Desa Galang Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah. Jurnal Hutan Lestari Vol 8 (4): 792 – 801

Leave a Reply

Lihat post lainnya