Penamaan desa sering dihubungkan dengan beberapa hal yang khas, semisal diambil dari nama buah, tanaman, sungai, satwa, dan lain-lain. Namun dalam beberapa penamaan desa, didasarkan atas perkembangan sejarah pembangunan atas wilayah tertentu. Pandan Lagan, kerap dikaitkan dengan nama sebuah UPT (Unit Penempatan Transmigrasi) Simpang Pandan.

Wilayah yang merupakan bagian dari Kecamatan Geragai-Tanjung Jabung Barat ini mulai dibuka pada tahun 1982, era gencarnya program pemerataan penduduk indonesia pada waktu itu, dan menempatkan 200 kepala keluarga pada wilayah yang 75%-nya merupakan kawasan gambut dalam.  Tiga tahun berselang, UPT ini kemudian berkembang menjadi desa definitif dengan nama Pandan Lagan.

Desa seluas 891,42 Ha (hasil pemetaan partisipatif tahun 2010 dengan bantuan Walhi Eksekutif Daerah Jambi-red) ini harus menghadapi beberapa himpitan. Di satu sisi, Pandan Lagan berbatasan, atau berada dekat dengan Hutan Lindung Gambut (HLG) Sei Buluh yang memiliki kedalaman gambut lebih dari 3 m. Sistem kelola yang dilakukan dengan cara tradisional membuat kondisi HLG tersebut masih terjaga, dan ketika kawasan tersebut hancur, itupun  diakibatkan bencana kebakaran hutan besar pada 1997. Untuk ladang yang tidak berbatasan dengan HLG, masyarakat mulai dikenalkan dengan penggunaan mesin dan herbisida. Ini dilakukan karena mendapatkan bantuan dari dinas.

Kayu-kayu hutan di HLG Sei Buluh ini masih banyak terdapat di dalam kawasan dan areal yang berdekatan dengan Desa Sungai Buluh dan Desa Sungai Beras, untuk kawasan yang berdekatan dengan desa kami tidak ada lagi karena habis terbakar di tahun 1997. Yang banyak adalah kayu jenis mahang, jelutung dan merantih rawa yang ditanam ulang pada tahun 2003 melalui program Dinas Kehutanan.” Ujar Ahmad (43) dan Andi  (45), dua warga Desa Pandan Lagan, saat ditemui oleh tim, menceritakan tentang kejadian bencana kebakaran besar yang menimpa HLG Sei Buluh, dan partisipasi masyarakat dalam mendukung program penghijauan kembali.

Berubahnya Kelola Gambut Pandan Lagan

Di sisi lain, Pandan Lagan juga harus terhimpit oleh adanya beberapa perusahaan besar. Terdapat 3 (tiga) perusahaan yang beroperasi, yaitu PT Kaswari Unggul (perkebunan sawit), PT WKS (HTI) dan PT Petrochina Intenational Jabung Tbk. Beberapa konflik sempat terjadi antara masyarakat dan perusahaan-perusahaan tersebut.

Perubahan secara langsung dapat dirasakan dalam pola budidaya warga desa. Sebelum 1997, warga menanami lahan mereka dengan kedelai, padi, jagung dan nanas. Dampak kebakaran dirasakan ketika satwa yang mendiami HLG, kehilangan habitat dan mencari makanan di luar kawasan yang habis terbakar. Kemudian, warga mengganti tanaman mereka dengan menanami karet, kelapa, pinang, jengkol, dan beberapa tanaman buah-buahan dan kayu keras.

Kini, ketika beberapa perusahaan besar datang dengan komoditas yang menjanjikan (sawit-red), ini pun berdampak dengan berubahnya pilihan untuk pemenuhan ekonomi warga. Lahan-lahan mulai ditanami sawit, walaupun di bawah tegakan di beberapa bagian masih bisa ditanami palawija. Dibarengi dengan pemagaran dan pengawasan hama babi yang dilakukan. Untuk warga yang tidak memiliki lahan, atau belum mendapatkan hasil dari lahannya. Utamanya, warga akan memilih menjadi buruh upah di perusahaan yang ada, dengan upah maksimum Rp. 35,000/hari untuk perempuan dan Rp. 50,000 untuk buruh laki-laki.

Walhi Jambi, saat ini tengah melakukan penguatan dalam pendampingan masyarakat untuk penanganan konflik antara masyarakat dan perusahaan, di samping itu diadakan juga penggalian dan peningkatan wawasan dan pengetahuan warga tentang pengelolaan kawasan gambut yang lestari berbasis kearifan yang terdapat di empat wilayah desa gambut di Jambi.

Kebutuhan pengetahuan dan informasi memang sangat dibutuhkan oleh warga Pandan Lagan. “Kami tahu bila sawit merusak tanah. Kalaupun ada pilihan lain untuk kami terus bertahan hidup selain menanam dan menjadi buruh sawit, kami akan terus perjuangkan” Ujar Ahmad, tentang pentingnya pengetahuan teknis pertanian dan pengelolaan kawasan rawa gambut yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam mengelola gambut mereka.

Tagged on:                                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>