A.  Pendahuluan

Sampai kini, rotan masih dikategorikan sebagai salah satu hasil hutan non kayu yang sangat penting, karena disamping sebagai salah satu mata pencaharian di beberapa daerah juga merupakan komoditi ekspor yang penting disektor kehutanan. Indonesia merupakan produsen rotan yang terbesar di dunia, karena sampai saat ini memasok 80 % kebutuhan rotan dunia .

Dalam rangka tetap mempertahankan dominasi Indonesia sebagai negara produsen dan pengekspor rotan dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, maka pembinaan sumber melalui budidaya rotan perlu digalakkan.

Budidaya merupakan suatu adat kebiasaan dari leluhur terutama di beberapa daerah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Pengalaman-pengalaman panjang secara turun-temurun dalam budidaya rotan merupakan modal dasar dalam usaha meningkatkan budidaya rotan guna meningkatkan ekonomi masyarakat lokal. Budidaya rotan, disamping untuk memenuhi kebutuhan lokal juga sebagai sumber pendapatan tunai (cash income) bagi masyarakat lokal. Selain itu pula, ditinjau dari sisi ekologi, praktek budidaya rotan ini merupakan peran serta langsung masyarakat dalam konservasi keanekaragaman hayati, karena selain tanaman rotan, juga banyak tumbuh berbagai jenis pohon dan tumbuhan bawah. Terdapat sekitar 802 jenis tumbuhan yang merupakan komponen pendukung ekosistem kebun rotan.

Pembinaan masyarakat dalam budidaya rotan perlu terus ditingkatkan dalam rangka memberdayaan ekonomi masyarakat dan penggalangan peran serta masyarakat dalam konservasi lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Disamping itu, dalam pengembangan ekonomi suatu daerah, potensi dasar yang ada dalam masyarakat sebagai landasan perlu dikelola secara tepat dan benar agar berdaya guna yang maksimal bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

B.  Jenis Rotan yang Dibudidayakan.

Di Kalimantan terdapat sekitar 160 jenis rotan yang tumbuh di berbagai habitat, namun rotan yang dibudidayakan hanya beberapa jenis yang mempunyai nilai komersil, sedang yang lain masih tumbuh secara alami baik dihutan rimba maupun di dalam kebun rotan  itu sendiri.

DI DAS Kedang Pahu (masuk dalam wilayah Kabupaten Kutai Barat) terdapat sekitar 34 jenis rotan baik yang tumbuh secara alami di rimba-rimba maupun yang sudah dibudidayakan oleh masyarakat setempat.

Hingga sekarang, rotan yang paling banyak dibudidayakan di daerah suku  Benuaq dan Tunjung adalah Sega (Calamus caesius Bl), Jahab (Calamus trachycoleus Becc), Pulut merah (Daemonorops crinita Bl). Beberapa jenis rotan lain ditanam hanya secara sporadic seperti misalnya rotan Manau, Seletup, Pulut putih dan Kehes.

C. Sistem Budidaya Rotan

Budidaya rotan dilaksanakan oleh masyarakat lokal secara individual di lahan milik mereka yang merupakan areal ladang. Oleh karenanya pola penyebaran kebun rotan juga sesuai dengan pola penyebaran ladang masyarakat. Rotan masih merupakan mata pencaharian tambahan berjangka panjang bagi masyarakat lokal, disamping pekerjaan utama berladang. Penanaman rotan di lahan bekas ladang disamping sebagai usaha sampingan juga sebagai tanda kepemilikan individual dari lahan tersebut. Masyarakat telah menerapkan sistem tata batas yang disepakati bersama antara kedua individu yang memiliki kebun rotan yang berbatasan. Tanda batas tersebut berupa pohon-pohon yang ada di sekeliling batas kebun rotan.

D.  Teknik Budidaya Rotan Sega

a.  Kesesuaian Lahan

Rotan sega ditanam pada tanah lempung/liat, pada daerah kering ataupun dipinggir sungai, dimana hanya sewaktu-waktu terkena banjir yang tidak lama. Tanah berpasir tidak cocok untuk budidaya rotan sega karena pertumbuhan rotan tidak begitu baik dan setelah pemanenan rumpun akan mati.

b. Pemilihan benih (biji) dan anakan (bibit) yang baik

Rotan sega dapat ditanam dengan benih dan anakan.Penanaman memakai tunas dari rotan tidak pernah dilakukan oleh petani, karena akan menyebabkan rumpun rotan membusuk dan mati.

b.1. Pemilihan benih

Pengumpulan benih/biji rotan dilakukan dari kebun rotan, dengan mencari rotan yang sedang berbuah. Pengumpulan biji tidak dapat dilakukan sembarangan, bila ingin mendapatkan benih yang baik. Kriteria buah yang baik untuk dijadikan benih adalah :

  • Buah cukup matang. Buah yang sudah matang biasanya berwarna putih;
  • Buah cukup segar. Buah tidak berkerut dan bercak.
  • Tergantung relatif tinggi di atas tanah dan terkena sinar matahari yang cukup.

Benih yang ternaungi ataupun tergeletak pada tanah tidak baik dan berpengaruh pada pertumbuhan.

b.2.Perlakuan benih

  1. Buah yang dipetik dari kebun rotan dimasukkan ke dalam karung yang dibasahkan dan diinjak-injak agar kulit dan daging buahnya terkelupas;
  2. Bersihkan (bilas) biji rotan dari kotoran kulit dan daging buah;
  3. Jemur selama satu hari sampai setengah kering;
  4. Setelah kering rendam dua malam atau langsung semai;
  5. Tempat menyemaikan adalah kotak berukuran 1m x 1m. Dasar kotak dilapisi plastik. Kotak diisi tanah bercampur abu/sekam padi sampai setinggi 10 cm dan dibasahkan. Perbandingan tanah dan abu/sekam 7:3;
  6. Benih disemaikan dalam tanah basah tersebut sedalam benihnya. Tutup kotak dengan papan atau kulit kayu;
  7. Sekitar 1-2 minggu akan timbul bintik-bintik kecambah (pekukut mir);
  8. Jaga kelembaban tanam/sekam dengan menyiram secara teratur;
  9. Bibit siap dipindahkan ke lapangan setelah berumur 6 bulan – 1,5 tahun (tinggi 30 – 40 cm dan jumlah daun 5).

c. Pemilihan dan perlakuan anakan

  1. Anakan yang dipilih dari kebun adalah anakan yang cukup subur (3 – 5  daun, tinggi ± 30 – 40 cm);
  2. Pilih yang ada pucuk mudanya (masih menguncup atau baru terbuka);
  3. Cabut dan potong sebagian akar (± 4 cm) dan daun kecuali pucuknya;
  4. Kemudian beberapa anakan diikat menjadi satu dan direndam dalam air mengalir sampai keluar akarnya (sekitar 2 bulan). Untuk merangsang pertumbuhan akar bisa diberi roton F.
  5. Dalam perendaman sampai pada pangkal batang.

d.  Penanaman

Penanaman dapat dilakukan dengan benih atau dengan anakan baik anakan dari lapangan maupun yang disemai terlebih dahulu.

d.1. Penanaman dengan biji/benih

Penanaman dengan biji/benih dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

1.  Tanam biji/benih waktu penebasan/penebangan ladang.

  • Benih rotan ditanam bersamaan dengan penebasan/penebangan pohon saat membuat ladang.
  • Penanaman dapat dilakukan pada tonggak pohon, dengan maksud untuk memudahkan menemukan tanaman dan memeliharanya.
  • Kedalaman tanam ± 4-5 cm.
  • Saat sehabis membakar ladang atau pada saat menanam padi benih rotan sudah tumbuh.

2.  Tanam biji/benih bersamaan dengan menanam padi.

  • Menanam benih dapat juga dilakukan pada saat menanam padi.
  • Pilih areal dekat tonggak pohon untuk memudahkan mencari dan pemeliharaan tanaman.
  • Penanaman paling baik adalah pada daerah cekungan atau dekat pinggir sungai, karena mengandung lebih banyak air.
  • Penanaman dilakukan dengan sistem segitiga dengan lubang pada tiap sudutnya (3 lubang). Sistem segitiga memperbesar peluang keberhasilan tanaman dan mempercepat besarnya rumpun.

d.2. Menanam dengan anakan

  • Penanaman dengan anakan dilakukan setelah padi setinggi lutut dan pada saat pada musim penghujan. Maksudnya supaya ada perlindungan, sehingga tidak layu.
  • Pilih lokasi yang ada cekungannya (leebak) karena mengandung lebih banyak air sehingga pertumbuhannya lebih baik.
  • Tanam dengan sistem segitiga/segiempat/lingkaran dengan jarak 25 – 30 cm agar rumpun cepat besar dan memperbesar peluang keberhasilan tanaman.
  • Jarak antara jalur 5 – 10 m.
  • Jarak anakan rotan dengan pohon ± 50 cm.

e.  Pemeliharaan

e.1. Penyiangan dan pembersihan rumpun

  • Disekeliling anakan rotan yang ditanam sebaiknya disiangi dengan radius 1 m dari tanaman.
  • Penyiangan dilakukan sebanyak 2 kali dalam setahun.
  • Untuk merangsang rotan bertunas banyak maka ujung batang rotan yang tumbuh pertama dipotong pada saat rotan sudah tumbuh setinggi 1 – 1,5 m.
  • Rumpun tua sebaiknya dibersihkan dari timbunan serasah, ranting atau cabang pohon. Timbunan serasah sebaiknya dibakar untuk dijadikan pupuk.
  • Jika diperlukan dapat diberikan tambahan pupuk TSP setelah anakan berumur 6 bulan.
  • Rotan jenis lain yang dianggap mengganggu anakan anakan sebaiknya dibuang.

e.2. Pembebasan dari naungan

Rotan merupakan tumbuhan pemanjat yang suka cahaya. Oleh karenanya, bila rumpun rotan tersebut ternaungi oleh pohon-pohon yang berdaun lebat, maka pertumbuhan dan perkembangan tunas-tunasnya akan terhambat dan lama kelamaan akan mati. Pohon-pohon yang menaungi tersebut sebaiknya ditebang atau diteres, sehingga rumpun rotan mendapat sinar yang cukup. Peneresan lebih baik dari penebangan, karena pohon mati pelan-pelan sehingga tidak terjadi penambahan sinar yang drastis yang bisa menyebabkan rotan maupun anakannya mati. Kelemahan lainnya dari penebangan adalah pohon yang ditebang bisa merebahi rumpun dan menyebabkan kematian rotan, juga rotan yang memanjat bisa tertarik dan juga mati. Perlu diingat, bahwa tidak semua pohon yang terdapat di dalam kebun rotan ditebang atau diteres. Pohon-pohon yang dimatikan tersebut mempunyai kriteria sebagai berikut :

  • Pohon tersebut menaungi rumpun-rumpun rotan secara berat;
  • Mempunyai tajuk yang rimbun dan lebat sehingga sinar tidak dapat masuk ke lantai kebun dengan cukup.
  • Bukan termasuk jenis yang sangat berharga bagi masyarakat lokal
  • Bukan jenis pohon buah yang produktif.
  • Bukan pohon penghasil madu.
  • Daun cukup besar dan lebat, sehingga dapat menutupi rumpun atau tanaman muda rotan yang menyebabkan kematian rumpun atau anakan.
  • Perambat berkayu (liana) yang menyaingi perkembangan tajuk rotan.

f.   Tingkat pertumbuhan rotan sega

  1. Pekukut mir adalah benih rotan yang mau berkecambah yang baru terlihat titik tumbuhnya.
  2. Ngiloos adalah benih rotan yang lembaganya sudah tumbuh seperti jarum.
  3. Lebaak atau tokook adalah semai rotan sampai setinggi 50 cm berdaun 2 sampai 4 helai.
  4. Numakng lawe adalah tanaman rotan yang mulai mengeluarkan daun yang berduri kait (lawe) diujung daunnya dengan tinggi 1 – 1,5 m.
  5. Ngebawaakng (membentuk rumpun) adalah tanaman rotan yang dalam tingkat pertumbuhannya mulai menghasilkan tunas-tunas baru dari tanaman sebelumnya.
  6. Ngelahau adalah rumpun rotan muda, dimana pelepah rotan masih hidup, belum kering atau mati.
  7. Tengkar adalah rotan yang sudah kering pelepahnya, namun masih melekat di batang.
  8. Ngeloneng/loneng (artinya gundul) adalah batang rotan yang pelepahnya sudah terkelupas, sehingga hanya tinggal batangnya saja.
  9. Ngenohaas adalah rotan yang sangat tua yang pelepah sudah lama terkelupas sehingga batangnya ditumbuhi lumut-lumut dan sangat panjang.
  10. Bawaakng tuhaaq (rumpun tua) adalah rumpun rotan tua dimana rotan sudah masak panen atau sudah berkali-kali panen dan bercampur dengan rotan atau tunas yang muda.

g.  Teknik Pemanenan

  1. Rotan sega dapat dipanen pada umur antara 8 s/d 10 tahun dan bila dipanen habis (total), maka pemanenan berikutnya antara 3 – 4 tahun.
  2. Pemanenan sebagian dapat dilakukan setiap saat, bilamana diperlukan.
  3. Batang yang dipanen adalah batang yang cukup tua yang ditandai dengan kering dan terkelupasnya pelepah (loneng) sampai kira-kira 75 % panjang batang rotan.
  4. Pemotongan batang dilakukan dengan menyisakan pangkal batang setinggi 1.5 – 2 m (3 – 4 ruas dari pangkal batang). Pemotongan terlalu dekat rumpun berakibat rumpun mati.
  5. Selanjutnya ujung rotan yang terletak pada tajuk pohon dipanjat dan dipotong atau dikait memakai arit dan ditarik dari bawah.
  6. Batang rotan yang sudah terkumpul dipotong-potong, dengan ukuran 3.5 depa atau sekitar 6 m panjangnya (sesuai kebutuhan). Potongan-potongan rotan tersebut dilipat dua dan diikat menjadi satu untuk memudahkan pengangkutan.
  7. Tiap ikatan beratnya berkisar antara 20 s/d 50 kg, tergantung dari hasil yang didapat.
  8. Rotan tersebut siap diangkut dan dijual ke pedagang pengumpul atai diolah sendiri.

Sumber: diambil dari Tulisan Mohammad Nasir (SHK Kaltim)

    Tagged on:                     

    3 thoughts on “Budidaya Sega P3R

    • February 21, 2010 at 1:03 pm
      Permalink

      apa msh perlu rotan di budidayakan??? toh pemerintah telah melarang/menghambat ekspor rotan walaupun industri dlm negeri tdk mampu menyerap 10% potensi yg ada. Pemerintah telah GAGAL mengurus rotan dgn mengeluarkan aturan tataniaga yg hanya berbau politis dan se-mata2 utk kepentingan industri Jawa dan mengorbankan petani/pengumpul rotan di luar Jawa.
      Kasus salah urus rotan oleh pemerintah,telah ditertawai oleh para ahli dibidang rotan maupun dunia internasional, setolol begitukan bangsa ini?

      Reply
    • March 1, 2010 at 6:54 pm
      Permalink

      Dari beberapa komentar di dua tulisan tentang budidaya rotan. Jelas tergambar bahwa apa yang ada di kepala beberapa orang ketika bicara rotan hanya berpikir dari sudut kepentingan ekonomi saja. Padahal budidaya Rotan bagi masyarakat Dayak bukan sekedar untuk memenuhi kepentingan ekonomi tapi juga kepentingan sosial, budaya dan lingkungan.

      Reply
    • Pingback: 3 Menteri Pendusta Mengorbankan 2,5 Juta Petani Rotan « KEMENDAG NEWS

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>